Anita Sari Sukardi

"Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi."
(Penggalan QS. Ar Ra'd : 17)



Hai hai hai.
Sudah agak telat sepertinya ya.
Sowryyy.
So apa kabar di Tahun baru teman-teman?
Apa resolusi kalian di tahun 2020 ini?
Boleh-lah cerita-cerita sikit.

Untukmu yang sedang merangkai kegiatan 2020. Kalender muslim 2020 ini bisa dijadikan sebagai acuannya loh ya.




Bandung, 29 Maret 2020 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Google



Assalamu'alaikum wr.wb
Gaes, kali ini gue pengen sharing tentang amalan yang membuat kita tenang. Apa saja amalan tersebut, yuk kita bahas!

Sebelum masuk ke point dari amalan-amalan tersebut, diawal pembahasan ustad Adi Hidayat mengemukakan potensi besar yang ada pada wanita namun tidak ada pada orang lain.
Potensi tersebut antara lain:
  1. Rahim
  2. Melahirkan
  3. Menyusui
Nah masing-masing potensi tersebut benar adanya memang seperti sebuah keajaiban dan keistimewaan dari Tuhan kepada hambanya. Hanya wanita yang mempunyai rahim, namun tidak semua wanita berahim sehat, maka betapa beruntungnya wanita yang mempunyai rahim sehat dan kuat. Begitu pula dengan keadaan melahirkan dan menyusui, semuanya spesial. Bahkan ketika melahirkan juga, seorang wanita berjuang antara hidup dan mati.

Nah selanjutnya, kita akan berbicara soal ketenangan. Ketenangan merupakan jaminan pertama ketika manusia diturunkan ke bumi. Seorang manusia akan tenang manakala ia mengingat Tuhannya. Maka bagaimanakah menghadirkan ketenangan itu? Yaitu dengan hal-hal sebagai berikut;
  1. Sholat
  2. Doa
  3. Membaca Al Quran
  4. Menghafal Al Quran
  5. Menyebut kalimat-kalimat thoyibah 


Bandung, 26th February 2020 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album





Banyak orang yang pura-pura sayang sama diri sendiri, tapi nyatanya tak mengenal dirinya sendiri. Ikut kanan-kiri yang pada akhirnya membuatnya bingung. So i wanna share to you how to self care.

  1. If it feels wrong, then don't do it.
    Yah istilah kecenya sih ikutin naluri ajah. Percaya atau engga dalam satu idividu itu seperti ada individu di dalam individu. Bener ga? Gimana ya jelasinnya. Hmmm like kita mikir tapi ada pikiran lain gitu. 
  2. Say "exactly" what you mean.
    Ndak udah bertele-tele. Nah kalau kita memang tipikal orang yang susah to the point, coba deh belajar dikit demi sedikit. Emang sulit, tapi pasti bisa kok.
  3. Don't be a people pleaser.
    Kita tidak bisa membuat semua orang suka sama kita, karena toh pasti ada yang benci atau julid. Please enjoy ajah.
  4. Trust your instincts.
  5. Never speak badly about yourself.
  6. Never give up on your dreams.
  7. Don't be afraid to say "no".
  8. Don't be afraid to say "yes".
  9. Resist the need to always have control.
  10. Stay away from drama and negativity.

Bandung, 4th February 2020 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album




Such a long time no update this blog. Kaget juga nih gue waktu buka blog. Ternyata dia update platform. Nice. Hahaha. Well I'm sorry. Being a mommy at home it's not a game. Waktu gue banyak tersita buat anak dan kegiatan rumah. So di moment new year ini, gue mau mulai lagi nih aktif nulis.

Nulis apa ajah. Pengalaman ataupun pandangan gue terhadap sesuatu or beberapa ilmu yang baru gue dapat seperti sebelum-sebelumnya.

Bismillah.
Bandung, 9 Januari 2020 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album


Duh lama nih tak bersua. Jadi malu.
Maklum nulis jadi kegiatan yang lumayan sulit.

So kali ini gue mau ajak temen-temen buat bikin banana bread ala starbuck yang murce dan simpel tentunya. Bahan-bahannya pake bahan yang sering terlihat di dapur. Kalau tidak ada ya beli deh. Hehehe.

Untuk detailnya kalian bisa nonton di video ini yah. Jangan lupa like dan subscribe. Thank you before.
Cusss


Hidup itu lucu, ya...
Yang dicari, hilang..
Yang dikejar, lari...
Yang ditunggu, pergi...

Sampai hari kita lelah dan berserah.
Saat itu semesta bekerja.

***
Mei 2018,
Sudah ramadhan.
Pagi itu seperti tak biasa karena beberapa hari sebelumnya badan gue terasa sangat tidak nyaman. Akhirnya setelah beberapa hari sebelumnya membeli test pack, dengan rasa deg-degan antara siap dan tidak siap kepake juga test pack itu.

Semenit,
Dua menit,
Beberapa menit selanjutnya.

Dan eng ing eng,
Engga merah banget sih. Tapi dua garis. Karena gue bingung lalu gue foto dan kirim ke suami.  Kata dia "HAMIL". Alhamdulillah gue hamil.

Hasil Test Pack

Gue sebenarnya takut, bisa disebut tak siap dengan kehamilan ini. Ya memang karena gue pengen sekali jalan-jalan, belajar, mengejar karir dan melakukan banyak aktivitas dulu. Selain itu gue juga merasa agak tertekan dengan kondisi suami gue. Sampai akhirnya di kedatangan kita ke 2 periksa kandungan. "Duk duk duk", terdengar suara denyut jantung dari mesin fetal dopler. Seketika semua ketakutan itu runtuh. Gue akan jadi ibu. Siap atau engga siap. Allah sudah memberi amanah. Allah pasti akan memberi jalan.

Selama hamil, gue termasuk engga nyidam. Yang gue sadar dan gue pelajari adalah bahwa entah kenapa ketika hamil itu sebenarnya di otak sering kali mengingat memori-memori masa lalu, entah tentang keadaan atau pun tentang makanan yang pada akhirnya membuat kita menuturkan "Ingin makan (sesuatu)". Jadi gue berusaha sewaras mungkin untuk tidak terlalu menginginkan sesuatu.

Gue tetap menjalankan puasa ketika hamil. Karena menurut gue, gue mampu untuk puasa dan gue ingin anak gue nanti menjadi anak yang taat kepada Tuhannya. Hamil bukanlah orang sakit.

Bayi 2 Bulan

Bayik 2 Bulan Ikut Mudik ke Lebuh, Kepulauan Riau

Memasuki bulan ke 4, ada sesuatu yang aneh pada diri gue. Kalau keluar rumah, entah ke mall atau belanja di supermaket tiba-tiba aja gue roboh. Mendadak gue keluar keringat dingin, dan perlahan pandangan gue jadi terang (silau). Hal ini terjadi sampai usia kandungan 7 bulan. 

Sejak usia kandungan 35 minggu, perut gue sering sakit. Tulang punggung belakang gue ga karuan rasanya. Gue juga ga paham apakah ini namanya kontraksi atau bukan. Usia 36 minggu gue diungsiakan suami ke Solo. Akhirnya dokter memberi gue obat penguat sampai usia kandungan 37 minggu. Kata dokter yang penting nanti masuk ke usia 37 minggu, insyaallah dedek sudah siap keluar.

Bayi 5 Bulan Wisuda

Hari demi hari berlalu. Gue di Solo dengan kegerahan yang amat sangat. Gue sangat kesal memang sama suami. Gue bilang gue ga mau di Solo. Tapi tetap saja suami menyuruh gue buat di Solo. Selama di Solo kegiatan rutin gue senam di Rumah Sakit pun kandas mengingat dokter bilang gue harus bedrest. 

38 Minggu kurang sehari. Minggu, 20 Januari 2019. Perut gue mulai mulas sedari dini hari. Gue bangun, baca quran dan mencatat interval mulas. Entah kenapa gue ngrasa kalau gue mau lahiran. Jam 3 pagi akhirnya gue bangunin ibu mertua, karena gue panik setelah mendapati ada bercak di celana dalam gue. Kita ga lantas langsung ke rumah sakit. Gue bilang ke ibu kalau nanti saja setelah subuh. Akhirnya setelah subuh kita berangkat ke Rumah Sakit Triharsi (Rumah sakit rekomendasi ibu mertua gue). Dan ternyata ketika dicek, gue baru bukaan satu. 

Bolak-balik ke WC karena rasanya pengen kencing terus. Makin lama makin sakit pula ini perut. Akhirnya tepat jam 13.00 WIB gue bukaan lengkap. Gue meronta-ronta kesakitan. Jangan tanya seberapa sakitnya. Dalam otak gue, "Ya Allah ampunilah hamba, semoga semua ini engkau gantikan dengan rumah di Surga". Prosesi persalinan pun dimulai, gue disuruh mengejan ketika perut gue sakit. Satu jam berlalu. Gue berfikir kenapa bayi ini ga keluar-keluar, padahal kepala sudah terlihat. Setengah 3 sore, akhirnya dokter yang bertanggungjawab atas persalinan gue dateng juga. Setelah sebelumnya dia sibuk dengan seminarnya. Gue bingung, kenapa nasib gue naas gini. Lahiran cuma ditungguin sama embak-embak bidan. Waktu dia dateng, dia cuma bilang "Udah bu, kita sesar aja ya. Soalnya sudah satu setengah jam sejak ibu mulai mengejan, tapi bayinya tidak mau keluar. Kalau dilihat dari kondisi ibu memang bayinya susah keluar, pinggul ibu terlalu kecil dan tinggi badan ibu juga pendek." Gue saat itu yang udah pasrah banget, iya iya aja. Gue penasaran, kenapa dokter bilang sesar tapi gue gak lekas ditindak. Usut punya usut akhirnya gue mendengar bahwa gue harus dirujuk ke rumah sakit lain yang lebih besar. Ya Allah berapa lama lagi gue harus melewati ini semua.

Di dalam mobil ambulance gue cuma berdoa semoga lekas sampai, lekas selesai penderitaan ini. Pandangan gue tiba-tiba kabur. Gue hampir menyerah. Tapi entah kenapa tiba-tiba saja seperti ada bisikan dan hembusan hangat yang membuat gue sadar lagi. 

Dokter-dokter itu berkumpul mengelilingi gue. Entah berapa banyak, mungkin 10. Di puncak penderitaan gue, ada dokter yang mengecek kondisi gue. Gue ingat betul rasanya, dia sepertinya memasukkan tangannya ke vagina gue terus memutar tangannya. Ughhh sakit sekali Ya Allah. Namun berkat dari dia lah, gue tetap diusahakan untuk lahiran normal. Waktu itu gue ditanya sama salah satu dokter, "Ibu perutnya sakit ya? Mules banget ya bu? Kalau iya ibu ngejan aja". Ketika mules pertama, dengan posisi miring gue mengejan sekuat tenaga. Bayi teteap tidak mau keluar. Kemudian gue kembali ke posisi awal, gue mengejan lagi. Belum juga mau keluar. Dalam hati, gue bicara sama bayi, "Dek ayo keluar, mama pengen ketemu nih". Jam 15.35 WIB gue kembali mengejan, semua dokter yang ada di ruangan itu berteriak menyemangati gue. Gue pun kembali bersemangat setelah gue merasa menyerah. "Uweeeee", akhirnya teriakan kencang itu gue dengar. Bayi gue keluar. Anak gue lahir dengan selamat dan yang paling lega adalah gue ga mules lagi, perut gue terasa longgar. 

Setelah proses persalinan yang drama itu, beberapa saat gue merasakan hangatnya si bayi di perut gue. Gak IMD memang, mungkin itulah yang terbaik buat kami saat itu. Mengingat proses persalinan kita yang tidak mudah. Setelah proses yang cukup melelahkan, dokter pun melanjutkan menjait jalan lahir bayi gue. Kata dokter, jaitannya banyak. Karena ada bengkak juga, dan sebelum dijait dokter langsung menawari KB IUD dengan periode 5 tahun. Gue pun iya iya aja,  karena jujur gue sudah sangat tidak kuat. Gue capek, gue pengen istirahat dan pengen lihat bayi gue. Gue pengen tahu berat badannya, panjangnya.

Selesai persalinan, jam 16.30 WIB akhirnya suami gue ada di samping gue. Sedari tadi gue ga nangis sama sekali. Entah kenapa setelah gue lihat wajah dan memegang tangan suami gue, tiba-tiba aja air mata itu keluar. Aku cuma bilang, "Papin uda lihat dedek? Udah diadzanin belum?". 

3 Hari setelah lahiran,
Baru juga masuk ke ruangan dokternya, dokter langsung bilang "Loh bu, itu bayinya kuning. Tolong baringkan biar saya periksa lebih lanjut". Emak mana coba yang gak syok ketika dokternya bilang gitu? Lalu sang dokter bilang, "Bu bayi-nya diopname saja ya". Gue skot jantung men. Nih yang patut kalian tahu, proses BPJS itu sulit sekali broh. Kita kalau mau make fasilitas BPJS harus punya surat rujukan dari faskes 1 yang kita pilih. Nah di kasus bayi gue ini, karena faskes 1 nya adalah puskesmas yaudah kita harus pergi ke puskesmas siang-siang. Dan you know gaes, gue tuh ga ngerti sama sekali kenapa Puskesmas di Indonesia ini kalau sudah siang hari, jam 11.00 WIB misalnya para pegawai atau petugasnya tuh ga melayani lagi jika ada yang mau pendaftaran pasien periksa. Dari situ gue uda hopeless aja pake BPJS, terus gue bilang sama suami "Uda kita pake umum aja, bayar aja gapapa. Insyaallah ada uangnya. Nanti Allah kasih lagi ke kita pasti.", suami gue yang ngliat gue gendong bayi sambil sesenggukan iba juga pasti, mengingat gue lahiran aja sulit.

Setelah kita mutusin mau pake pembiayaan umum, kita balik lagi ke dokter yang meriksa bayi. Tapi yang gue bingung adalah dokter ngejelasin A-Z bahwa ga harus hari itu juga bayi diopname, kalau pun mau diopname secara langsung eman-eman juga BPJS-nya tidak terpakai karena kita sudah bayar. Dokternya juga bilang kalau gue jangan nangis, kasihan bayinya nanti ikutan sedih. Karena dokter uda bilang gitu, yauda akhirnya kita berfikir buat mengopname bayi di esok hari. Terus gue kontrol buat gue sendiri.

Asak usuk, gue dikasih saran oleh seorang suster tentang masalah bayi. Gue disuruh nyoba ke IGD. Akhirnya berhasil, meskipun nunggu agak lama tapi ga masalah buat gue. Selama proses, gue sama suami nunggu dengan sabar. Di situ gue liat suami gue begitu kelelahan dan ngantuk, matanya merah. Lalu gue suruh dia pulang buat istirahat sebentar. Tinggallah gue di rumah sakit sendirian, wira-wiri mengurus bayi sendirian. Mana sejak pagi gue belum makan.

Bayi akhirnya dipindah ke ruang HCU, gue nangis. Pikiran gue kemana-mana. Gue ngerasa sangat bersalah, bayi baru saja lahir belum tahu apa-apa tetapi dia sudah diuji dengan berbagai macam hal. Setelah menyelesaikan beberapa urusan bayi, gue dijemput bapak gue. Gue dijemput buat beli beberapa perlengkapan buat bayi. Sepanjang perjalanan gue dikasih masukan, dikritik, dan lain-lain perihal suami gue. Nangis uda tentu lah, siapa sih orang tua yang ga khawatir dengan keadaan anaknya. Gue cuma minta mohon doanya saja.

***
Sekarang anak gue udah sehat 20 April nanti 3 bulan, udah bisa ngoceh, uda bisa miring-miring sendiri badannya. Masyaallah. 
Selanjutnya kami belajar bersama, menikmati hari-hari bersama. Gue sebagai ibu dan bayi sebagai anak gue.

Bandung, 11 April 2019 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album


Hai hai hai. Apa kabar di Tahun baru teman-teman?
Apa resolusi kalian di tahun 2019 ini?
Boleh-lah cerita-cerita sikit.

Nah untuk menyemangati teman-teman sekalian, yuk cek jadwal-jadwal puasa di tahun 2019. Selain cek jadwal puasa, kita juga bisa nih tag jadwal untuk liburan. Oke langsung saja, berikut adalah kalender muslim 2019.



Jakarta, 8 Januari 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Al Habib Info

Perkembangan Jiwa Sosial Anak

Saat ini kita cenderung sulit menemukan pribadi anak-anak yang tanggap akan lingkungan sekitar. Anak-anak cenderung gadget-able atau individualis. Mereka hanya tertarik dengan apa yang terjadi dengan diri mereka sendiri. Lantas siapa yang salah?

***
Ternyata jiwa sosial pada anak terbentuk sejak ia dalam fase timangan atau menyusui. Jika kita tepat memberikan pendidikan sosial kepada anak sejak saat itu, maka jiwa sosial akan melekat di dalam hati anak seumur hidup. Lalu bagaimanakah proses perkembangan jiwa sosial pada anak? Bagaimana indikasinya? Let's check this out;
  1. Usia 3 - 5 bulan
  2. Anak akan mulai nyaman dengan keberadaan orang lain. Ia akan menangis ketika ditinggal sendirian.

  3. Usia 6 - 7 bulan
  4. Anak akan mulai dapat membedakan suara orang marah dan suara orang yang mengajaknya bermain.

  5. Usia 8 - 9 bulan
  6. Anak mulai meniru hal-hal sederhana dari orang lain.

  7. Usia 11 - 12 bulan
  8. Anak mulai berhenti melakukan sesuatu jika dilarang oleh orang dewasa.

  9. Usia 18 - 20 bulan
  10. Anak mulai memperlihatkan sikap membangkang.

  11. Usia 20 - 24 bulan
  12. Perhatian anak akan mulai beralih dari mainan ke teman-temannya.

Demikian proses perkembangan jiwa sosial anak umur 0 - 2 tahun. Semoga bermanfaat. Salam sehat, salam semangat dan jangan lupa senyum.


Jakarta, 4 April 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Google Album