Anita Sari Sukardi

"Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi."
(Penggalan QS. Ar Ra'd : 17)

Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun terkadang apa yang mereka inginkan tidak sesuai dengan kenyataannya. Barang kali orang tua terlewat dalam memberikan inputan kepada anak, sehingga tidak sesuai dengan yang diinginkan.
"You give, you get"

(Anita Sari Sukardi)

#SerialBaca
Bukan hanya satu dua pasangan yang berstatus orang tua yang lupa dengan tujuan, mimpi, ataupun motivasi ketika mendapatkan anak. Hal itu terjadi seiring dengan keadaan dan waktu mereka. Namun, seharusnya hal ini tidak bisa digunakan sebagai alasan. Harusnya meskipun apapun aral melintang, meskipun badai menerjang mereka tetap kukuh dengan perjuangannya yaitu tujuan, mimpi atau motivasi ketika telah mendapatkan anak.

Pada dasarnya setiap pertumbuhan manusia ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut:
  1. Kebutuhan pokok yang paling dasar yang diperlukan diusia tersebut.
  2. Bahaya yang paling besar terjadi diusia tersebut.
  3. Nilai-nilai apa saja yang kita tanamkan pada anak ditahapan usianya, dan bagaimana cara menanamkannya.

Dari ketiga point tersebut, mari kita bahas berdasarkan periode nya.

TAHUN PERTAMA
Tahun pertama adalah kategori untuk usia 1-3 tahun. Menurut ahli psikologi, usia 0-6 tahun ini disebut Golden Age. Tetapi ulama menyebutkan usia ini adalah Usia Fitrah. Semua nilai yang bermanfaat di usia dewasa, sebaiknya ditanamkan di usia ini.

  1. Kebutuhan Pokok & Ancaman
  2. Pada usia ini kebutuhan utama bagi seorang anak adalah makanan dan perhatian.

    Al Quran menyebut usia ini sebagai Rodho’ah (usia menyusui), yaitu dimana para wanita dianjurkan untuk menyusui. Serta menggenapkan susuan anaknya (jika tak ada halangan) selama 2 tahun bagi mereka yang ingin menyempurnakannya.

    Masa ini merupakan amalan utama bagi seorang Ibu di 2 tahun pertama setelah melahirkan. Ada hal yang menarik mengenai hal ini yaitu hikmah dari masa nifas dan tidak boleh sholat adalah keadaan ibu setelah melahirkan yang harus FULL menyusui. Allah ijinkan wanita yang sedang nifas untuk meninggalkan sholat dan puasa, supaya Ibu meluangkan waktu secara intens dan maksimal bersama bayinya. Selain itu, ketika hal buruk terjadi (perceraian) secara otomatis hak asuh anak akan jatuh ke pangkuan ibu. Hal ini didasarkan keutamaan menyusui tadi.

    Kemudian masa hadhonah (pengasuhan) ini adalah masa istimewa, yang jika Ibu tidak hadir mendampingi anak-anaknya, maka sungguh disayangkan. Menurut beberapa penelitian, anak yang berada di bawah pengasuhan seorang ibu secara langsung akan memiliki ketenangan dan kematangan sikap, dibandingkan anak-anak yang masuk ke lembaga pendidikan terbaik sekalipun.

    Masa penyapihan. Seorang ibu harus betul-betul memperhatikan masa ini, orang tua harus tepat saat menyapih. Anak akan terpukul saat ibu menyapih mereka, jika tidak tepat cara menyapihnya. Bangunan yang sudah dibangun selama menyusui akan runtuh dan bisa muncul kebencian pada orang-orang di sekitarnya jika di fase ini ia diolok-olok dsb. Proses penyapihan tidak bisa terjadi secara instan. Proses ini memerlukan waktu yang cukup panjang tergantung pada karakter anak masing-masing. Jangan pernah mencoba menyapih dengan cara ekstrim. Misalnya memberikan jahe pada puting, memberikan lipstik pada puting sehingga memaksa anak berhenti menyusu dengan cara yang tidak apik. Lalu bagaimanakah cara yang tepat melakukan penyapihan? Agar anak tidak merasa terpukul saat disapih, maka dekapan, pelukan dan usapan sayang tetap diberikan saat mereka tidak menyusu lagi.

  3. Nilai yang ditanamkan dan cara menanamkannya
  4. Nilai penting yang ditanamkan pada masa ini adalah Cinta dan Bahasa.
    Anak 1 tahun belum bisa bicara dan mengerti apa yang kita ucapkan pada mereka, atau yang terjadi di sekelilingnya. Tapi anak bisa merasakan ketenangan jika kita berada di sampingnya. Pada umur ini anak tidak paham apabila diberi hadiah berharga murah atau mahal. Dia hanya paham bahwa orang yang cinta padanya adalah orang yang mau duduk di samping mereka. Dan jangan pernah membiarkan anak duduk sendirian di depan televisi, karena ini akan berkaitan dengan ancaman kematangan bahasa anak. Jangan lupa sempatkan berdoa. Doakan anak-anak seperti Rasul, “Ya Allah aku mencintainya. Cintailah orang-orang yang mencintai mereka.” 
    Cinta itu akan lahir bukan karena berapa banyak harta yang kita berikan kepada seorang anak. Namun cinta itu terlihat ketika kita selalu berada di sampingnya. Karena fitrahnya anak adalah sama ketika masih kecil, maka perlalukan mereka dengan cinta dalam bentuk belaian. Selain itu itu kita juga bisa mengkombain cara memperlihatkan cinta sesuai dari tabel berikut ini:
    Pendidikan Bahasa terlahir dari apa yang didengar oleh anak. Sehingga banyak hal yang perlu orang tua waspadai dengan cara bicaranya, mengingat bahwa anak akan lebih sering bersama dengan orang tua. 

    Orangtua harus menyebutkan bahasa yang benar kepada anak, tidak usah ikut-ikutan dengan bahasa anak yang belum jelas. Misalnya, anak bilang mau cucu, kita tdk mengikuti kata cucu melainkan menyebutkan susu. Hindari interaksi anak kita di 3 tahun pertama dengan perkataan/orang yang lisannya tidak baik misalnya gampang mengeluh, mencela, mencaci maki dsb. Hindari sebutan-sebutan tidak baik meskipun untuk menyebutkan panggilan sayang untuk anak. Jangan biarkan anak duduk sendirian di depan TV. Karena anak akan memungut banyak kosakata yang akan menyulitkan kita menanamkan nilai di usia berikutnya. Simbol-simbol dalam TV seperti muncul gambar hati di mata kucing yang sedang jatuh cinta, terekam di benak anak. Hal ini akan menyulitkan kita untuk menanamkan pentingnya menundukkan pandangan (ghadhul bashar) di usia berikutnya. Memperdengarkan kalimat-kalimat baik, pendek dan bernada pada anak-anak, seperti kalimat dzikir dan surat pendek, sehingga mudah untuk diingat. Misalnya : Bismillah untuk memulai aktivitas apapun, Alhamdulillah ketika selesai melakukan segala aktivitas (makan, minum, berkumur, berpakaian, dsb), memperdengarkan Surat pendek/dzikir dengan pola Dan irama (akan lebih baik menggunakan suara kita sendiri)

TAHUN KEDUA
Tahun kedua adalah kategori untuk usia 4-6 tahun Para ahli ilmu mengatakan bahwa anak seusia ini mengalami gejolak dalam gerak (aktif) dan gejolak bahasa (banyak bicara) sehingga anak dengan cepat skali meniru yang diucapkan disekitarnya, meski belum fasih. Allah memfitrahkan anak dalam usianya untuk bergerak. Rasul mengatakan, gerak yang berlebih akan mendukung mencerdaskan anak sehingga tidak perlu dibatasi melainkan diarahkan. Jika anak yang kurang bergerak dan anteng perlu diwaspadai.

Namun hal ini berbeda ketika anak sedang menuntut ilmu. Memang sebaiknya duduk tenang, tapi di luar itu biarkan mereka bergerak. Ibnu sina mengatakan tentang anak usia dini, kalo anak bangun tidur maka sebaiknya ia istirahat sejenak kemudian dibiarkan untuk bermain dengan mainannya selama 1 jam. Setelah bermain satu jam, kemudian disuapin makanan ringan. Lalu lepas lagi untuk bermain dengan durasi lebih lama dari sebelumnya. Setelah itu ia lelah, istirahat, baru sarapan pagi. Insya Allah lahap makannya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan gerak dan bermain pada usia ini adalah pertama jangan membatasi anak bergerak dan bermain tanpa ada batasan waktu. Jika waktu pun terbatas, tidak disampaikan dari awal, melainkan sampaikan setelah waktu selesai. Kedua ajak anak minimal 1 minggu sekali ke tanah lapang untuk.memuaskan dan kenyangkan kebutuhan bergerak anak. Ketiga jangan merasa bosan jika anak mengajak bermain pada hal yang sama berulang-ulang kali. Terakhir Manfaatkan permainan-permainan untuk menganalisa perkembangan anak kita. Permainan untuk mengobati akhlak anak kita. Misalnya saat anak diberikan boneka, anak bermain boneka dengan diam, menyisir boneka dan memakaikan baju pada boneka dengan diam, maka itulah refleksi anak diperlakukan oleh orgtua. Contoh lain misalnya anak bermain mobil-mobilan sambil berteriak, mengumpat atau mungkin sambil bernyanyi, maka begitulah yang ia pahami dari orangtuanya. Anak bermain mobil sambil teriak sana-sini, mungkin karena melihat ayahnya menyetir mobil sambil berteriak. Anak menggambar rumah dengan kakek atau kakaknya. Tidak ada gambar orangtuanya. Bisa jadi mereka tidak merasa dekat dengan ortu atau merasa ortu mereka penting dalam kesehariannya.

Pelajari pola dialog bersama anak-anaknya. Kita harus waspada dengan anak. Banyak dialog yang hidup di masa ini dan tidak boleh kita diamkan. Yang harus diperhatikan orang tua ketika berdialog dengan anak antara lain: Perbanyak ilmu orangtua agar bisa menjawab pertanyaan anak. Jika bisa menjawab, jawablah dengan benar dan ilmu. Jika tidak tahu jawablah tidak tahu, jangan mengada-ada. Selanjutnya perhatikan seni dalam menjawab, Jika anak bertanya dan kita tidak tahu, arahkan untuk mencari jawabannya di buku. Ajak ke toko buku dan biarkan mereka mencari sendiri gambar2 di buku dari apa yang mereka tanyakan. Jelaskan secukupnya, meski sebaris-2 baris kita bacakan, sudah cukup memuaskan dahaganya. Terakhir saat anaknya diam, Maka orangtua yang bertanya dengan pertanyaan yang terbuka dan bisa merangsang pola pikir anak. Jika anak tidak banyak bertanya pada kita, maka kita harus memancing pikiran mereka.

Hal-hal yang harus DIWASPADAI pada anak di usia 0-6 tahun adalah Taklid / Ikut-ikutan.

Yang memprogram anak pertama kali adalah dirimu sendiri. Makanlah dengan duduk dan tangan kanan, maka anak akan merekam dan mengikutinya. Makan dengan berdiri, maka anak mengikuti apa yang mereka lihat. Jangan pernah berkata bohong. Kuncinya adalah KETELADANAN.

Pendidikan anak di usia 4-6 tahun akan berhasil jika kita mengubah kebiasaan kita menjadi hal-hal yang baik, karena mereka adalah peniru ulung. Di usia kurang 6 tahun anak akan mengikuti kita karena kagum dan cinta pada orangtuanya. Setelah 6 tahun ia akan membagi kekagumannya pada guru, teman dsb.

Yang perlu kita tanamkan juga di usia ini adalah Al Qur’an. Bacaannya, tafsir, makna, hafalannya, ketepatan bunyi, tadabburnya, aplikasi Qur’an dalam keseharian dsb. Pelajari bagaimana Salafush sholih mendidikan Al Quran pada putra-putri mereka. Pena malaikat masih diangkat ketika anak melakukan maksiat (tidak dicatat oleh malaikat untuk dihisab), sehingga tidak akan menutupi ilmu.

CATATAN TAMBAHAN
Tantangan keras dalam proses pendidikan anak adalah lingkungan yang tidak mendukung. Lalu bagaimana kah solusinya jika lingkungan tidak mendukung pendidikan anak? Rumah menyumbang 60% pada anak dan sisanya ada di sekolah dan lingkungan. Jika lingkungannya tidak baik, maka orangtuanya lah yang harus rajin2 ‘mencuci gelas’. Sama halnya jika kita punya rumah di pinggir jalan, harus sering2 mengelap kaca yang terkena debu jalanan. Jika mereka terpapar lingkungan, orangtua mencuci akhlaqnya di rumah.

Beberapa hal yang menghalangi quran masuk dalam diri anak adalah Lagu/nyanyian yang bukan lagu anak. Permainan yang bukan permainan untuk anak. Lebih menyibukkan hati dan otak anak saat dia berada di majelis ilmu, misalkan games PS dsb. Anak tidak akan kecanduan lari-lari. Tapi games akan membuatnya kecanduan dan mengganggu konsentrasi.

Seiring berkembangnya teknologi, maka kita harus cerdas memanfaatkan perkembangan tersebut agar anak tidak tergerus dengan teknologi. Lantas kapan waktu yang tepat mengenalkan anak dengan gadget? Kalau ada kebutuhan tugas dari sekolah, tidak apa. Kenalkan sesuai esensi dan fungsinya : untuk berkomunikasi. Apabila anak sudah baligh, maka boleh untuk memberikan gadget dengan kepemilikan. Namun orang tua harus tetap melakukan evaluasi terhadap anak.

Lalu kapan waktu yang tepat untuk mengenalkan uang kepada anak? Yang lebih penting dari Pendidikan Uang adalah pendidikan tentang Nilai Uang. Didik pada anak kita agar ketika mereka memegang uang, yang harus dipikirkan olehnya pertama kali adalah : Uang ini darimana, dan Uang ini buat apa?

Bagaimana cara membagi perhatian kakak dan adik? Ketika penglihatan anak sudah disempurnakan di usia 4 bulan dan ia sudah dapat mengenali sosok ayah-ibunya, maka sudah seharusnya anak belajar transisi kedekatan, dari ibunya beralih pada Ayahnya. Ayah harus bisa memeluk dan mendekap sehangat ibunya. Sehingga jika ibu hamil lagi, kebutuhan kasih sayang ini tidak hilang. 

Jakarta, 9 Desember 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Private Album


***

"Brukkk!"

Gue terbengong meratapi badan yang sudah tertindih. Berat!
Beberapa orang memandang gue. Bapak-bapak relawan jalan, beberapa pengguna jalan, dan tak terkecuali supir bus transjakarta. Mereka tak tega kali ya hendak mencaci atau bahkan teriak ke gue. Mereka dengan muka kasihan cuma berdehem. Hanya berpesan, "hati-hati ya dek lain kali!"

Oke. Gue yang salah. Otak gue terbang kemana-mana waktu gue dalam perjalanan. Perasaan gue gundah, menggundahi angan-angan yang tak jelas dan tak nyata (abstrak, fana).

Sedetik setelah tragedi naas di awal pagi itu, gue langsung melanjutkan perjalanan demi ujian tengah semester. Gue harus memendam perasaan gue, buat mikir yang engga-enggak. Gue secepat kilat bangun dan berjuang buat gelar sarjana gue yang tinggal menghitung waktu.

Ujian selesai. Setidaknya satu moment terlewati.

"Ya Allah, melas amet sih awak! Udah ga ikut gathering kantor ke taman safari. Ga ikut pembukaan acara donor darah di Bandung. Pagi-pagi pake dicium bis transjakarta. Badan sakit semua. Tugas kulyah menumpuk. Tugas kantor membanjir. ATM hilang. Belum punya rumah. Emak sendirian di rumah. Nikah juga belum.  Ada beberapa hutang yang belum kebayar. Ya Allah, kapan awak bahagia. Ya Allah, matikan saya dengan sebaik-baiknya keadaan."

Pada akhirnya gue mengeluh juga ketika jalan pulang, padahal Allah memberikan nikmat yang jauh lebih banyak. Mungkin gue tak bisa bersyukur. Mungkin gue yang kurang bisa mengatur diri, dan gue banyak dosa sehingga Allah menimpakan ujian ke gue.

Dalam hati masih mikir, "Alhamdulillah. Untung si supir transjakarta ga marah. Untung gue ga dituntut si bapak. Untung gue cuma ketindih motor, bayangin klu kejadian jaman STM keulang. Gue ngesot sama motor sepanjang 100 meter, rok sekolah sampai berlubang". Kalau kalian nanya ke gue kenapa bisa begitu, gue juga ga tau musti jawab apa. Orang-orang sih mandang gue yang salah. Karna waktu gue mau puter balik, gue sama sekali ga lihat itu body-nya transjakarta. Cuma yang gue aneh dari rumah itu emang ngrasa ada sesuatu yang ga bisa dijelaskan dengan kata-kata. Blur!

***

"Ngabarin enggak. Ngabarin enggak."

Okeh gue ngabarin mamah tercinta. Panik beliau, nyuruh ke dokter minum obat dan segala macamnya. Duh mamah, pening pala awak. ATM ndug kan ilang.

Lanjut ngabarin abah. Antara panik dan engga, gue ga tahu mana yang tepat. "Read Only" yang dilambangin dua garis centrang warna biru di layar whatsapp.

Ngabarin mas diyan. Cuma "trus jatoh?" dan pengalihan crita yang lain. Gue juga ga gitu ngerti perhatian atau engga.

Ngabarin ibuuuk. Panjang lebar. Yang penting gue tau, ibuk merhatiin gue dong. Hahaha.

Ngabarin abang awir. Abang bilang "Bis-nya kesemsem". Hadeh, abang ngiranya sih gue becanda. Maklum sih ya, kan gue pecicilan.

Semua yang terjadi pada diri kita, sungguh itu adalah rencana dan jalan terindah yang Allah berikan kepada kita. Sekiranya kita tidak mendapatkan yang selalu baik maka haruslah kita menikmatinya dengan sabar, walaupun ketika kita diuji hal yang baik pun harus bersabar.

Allah selalu memberikan kita kesempatan untuk kita menuju jalan lurusnya. Termasuk gue pagi itu. Allah masih memberikan gue kesempatan untuk bertaubat, dan untuk lebih mencintai-Nya dibanding dengan apapun.
Selagi masih ada waktu, mari berusaha yang terbaik.

Bukankah tak perlu mati dulu lalu bertaubat? Bukankah tak perlu menyesal ketika sudah diliang lahat?

Gue inget pesan ustadzah banna, "Allah akan membuat hamba yang ia cintai menjadi lebih bermanfaat ketika hambanya itu mendekati ajalnya".

Dan gue pun berharap begitu.
Menuju 26 tahun, dan gue mulai menggalau. Belum mampu berbuat banyak.

    Jakarta, 20 November 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
    Image Source: Mbah Google Album


***

Lelah mungkin adalah kata yang tepat untuk mengungkapkan beberapa rasa. Seperti perjuangan hidup yang kamu lakukan dari A-Z, terasa sia-sia, terasa menyakitkan. Semuanya menjadi debu yang berterbangan di angkasa luas, tak bersisa.

Tersisa beberapa bait sajak istighfar dan teriakan yang hanya kamu dendangkan dalam hati untuk rabb-Mu.

Kamu tak mengerti bagaimana harus mengakhiri kali ini, telah berulang kali kamu berjuang menyelesaikan semuanya dengan perkataan ataupun perbuatan. Namun tetap saja kamu kalah.


Ya Tuhanku yang maha baik, maha pemaaf, maha menghapuskan dosa. Bolehkah aku bahagia dan tersenyum? Bolehkah di sisa hidupku ini aku semakin taat kepadamu, bahagia berada pada jalan-Mu tanpa keadaan yang memaksa sehingga aku jauh darimu? Ya tuhanku, aku berharap bahwa aku menjadi golonganmu. Maka berikanlah aku pasangan hidup yang saleh, yang mencintai-Mu dan rasul sebagai cinta utamanya. Pasangan hidup yang berjuang di atas sunnah-Mu. Pasangan hidup yang dengannya aku menjadi kuat, ia pun begitu.

Akhirnya saat ini kamu mengambil langkah, dan sisa-nya biarkan Tuhan yang urus. Yakin saja, bahwa yang kau perjuangkan saat ini adalah bukti ketundukanmu pada Tuhanmu. Untuk cinta yang kamu lepaskan nantinya, untuk masalalu yang telah berlalu, maafkanlah dirimu, mulailah semua dengan langkah yang gagah berani melalui jalan Tuhanmu. Semoga Tuhan menjawab semua pintamu.

Kaulah maut menjemputmu, semoga Rabb-Mu tahu bahwa kamu telah berjuang dan berusaha. Dan semoga maut menjemputmu dengan cara yang indah, semoga kamu telah disediakan rumah kecil di Surga. Kamu Jangan menangis.

    Jakarta, 13 November 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
    Image Source: Personal Album

Wanita
Jika hatimu adalah mawar jelita, yang keluar dari mulutmu pasti semerbak wanginya.
- Unknown

***
#SerialBaca
Siapa sih yang tidak ingin menjadi wanita jelita? Wanita yang anggun perilakunya, cantik parasnya, dan bersih hatinya? Manusia terbaik adalah manusia yang bermanfaat untuk orang lain, dirinya sendiri serta alam semesta. Pernyataan itu cukup menggambarkan bagaimana seorang wanita harus bersikap. Lebih luasnya sikap-sikap seorang wanita terbagi menjadi bersama tuhannya, dirinya sendiri, orang tua, suaminya, putra-putrinya, menantu, family & kerabat, tetangga, saudara & teman-temannya, serta masyarakat.

    BERSAMA ALLAH (TUHAN)
    1. Tekun beribadah.
    2. Menunaikan sholat 5 waktu. 
      "Tidak ada seorang muslim pun yang melaksanakan sholat (5 waktu), dengan membaguskan wudhunya, khusyuk dalam pelaksanaannya dan sempurna rukuknya, kecuali shalatnya adalah sebagai penghapus dosa-dosa besar dan itu berlaku sepanjang masa. (HR. Muslim)"
    3. Terkadang melakukan sholat berjamaah di Masjid.
    4. Melaksanakan sholat Ied.
    5. Melakukan sholat rawatib & nawafil. 
      "Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar. Aku menjadi penglihatannya dengannya ia melihat. Aku menjadi tanggannya yang dengannya ia bertindak. Aku menjadi kaki yang dengannya ia berjalan. Sekiranya ia memohon kepada-Ku sesuatu niscaya Aku memberinya dan jika ia meminta perlindungan-Ku niscaya Aku akan memberikan perlindungan padanya."
    6. Terkadang melakukan sholat berjamaah di Masjid.
    7. Membaguskan pelaksanaan sholat.
    8. Menunaikan zakat mal (harta).
    9. Shaum ramadhan.
    10. Qiyamul Lail.
    11. Melaksanakan puasa sunnah.
    12. Melaksanakan haji.
    13. Menunaikan umroh.
    14. Menaati perintah Allah.
    15. Tidak berkhalwat (berduaaan) dengan orang asing (bukan mahram).
    16. Konsisten menggunakan hijab.
    17. Tidak berhubungan bebas dengan laki-laki.
    18. Tidak berjabat tangan dengan laki-laki.
    19. Ridha terhadap takdir Allah.
    20. Bertaubat pada Allah.
    21. Bertanggungjawab terhadap keluarga.
    22. Tujuan hidupnya untuk Allah.
    23. Mewujudkan makna ubudiyah kepada Allah.
    24. Memperjuangkan agama Allah.
    25. Melaksanakan amar ma'ruf dan nahli mungkar.
    26. Banyak membaca Quran.

    BERSAMA DIRI SENDIRI
    1. Tubuhnya.
    2. - Sederhana makan dan minum.
      - Gemar berolahraga.
      - Badan dan pakaiannya bersih.
      - Memelihara kebersihan gigi dan mulut.
      - Merawat keindahan rambut.
      - Berparas menarik.
      - Tidak tabarruj dan berhias secara berlebihan.

    3. Akalnya.
    4. - Akalnya dipenuhi ilmu.
      - Ilmu yang wajib ditekuni dan dipelajari adalah:
      a. Al Quran.
      b. Hadist.
      c. Sirah Nabawi.
      d. Biografi sahabat dan tabiin dari golongan wanita.
      e. Fiqih, untuk memperbaiki ibadah dan muamalah serta mengetahui hukum agama secara baik dan benar.
      f. Ilmu yang berkaitan dengan tugas utama di dunia (mengurus rumah tangga).

    5. Rohaninya.
    6. - Tekun beribadah dan mensucikan jiwa. 
      - Memperbanyak dzikir dan doa.

    BERSAMA ORANG TUA
    1. Berbakti kepada orang tua.
    2. Mengetahui kedudukan dan kewajiban orang tua.
    3. Tetap berbakti kepada orang tua meskipun orang tua non muslim.
    4. Takut durhaka kepada orang tua.
    5. Mendahulukan bakti kepada ibu kemudian baru ayah.
    6. Cermat dalam berbakti.

    BERSAMA SUAMI
    1. Memilih pendamping hidup yang baik.
    2. Taat dan berbakti kepada suami.
    3. Berbakti kepada orang tua dan mertua serta memuliakan keluarga suami.
    4. Mengasihi dan meraih ridhanya.
    5. Menjaga rahasia suami.
    6. Setia mendampingi dan mendukung pendapat suami.
    7. Motivator suami dalam hal berinfak.
    8. Membantu suami untuk taat di jalan Allah.
    9. Menarik hati suami.
    10. Bersolek (berdandan) untuk suami.
    11. Menyambut kedatangan suami dengan mesra dan rindu.
    12. Setia dalam suka dan duka.
    13. Menjaga pandangan.
    14. Tidak menceritakan wanita lain.
    15. Menghadirkan ketenangan, kedamaian dan ketentraman.
    16. Toleransi dan pemaaf.
    17. Mempunyai kepribadian yang kuat dan bijaksana.

    BERSAMA PUTRA & PUTRI
    1. Sadar akan tanggungjawab yang besar terhadap putra dan putrinya.
    2. Mengambil metode pendidikan anak yang terbaik sesuai dengan karakter dan kecenderungan anak.
    3. Mencurahkan cinta dan kasih sayang.
    4. Adil.
    5. Tidak pilih kasih apabila anaknya lebih dari satu.
    6. Tidak menyumpahi anak.
    7. Waspada dalam membentuk dan mendidik anak.
    8. Menanamkan budi pekerti yang mulia.

    BERSAMA MENANTU PEREMPUAN
    1. Selektif dalam memilih menantu perempuan. Memilih berdasarkan:
    2. - Agama
      - Akhlak
      - Pendidikan
      - Ketaatan menjalankan agama

    3. Menghargai keberadaan menantu dalam keluarga.
    4. Memberi nasehat dan tidak mencampuri urusan rumah tangga anak.
    5. Mempergauli menantu dengan baik.
    6. Bijaksana dan adil dalam mengambil keputusan.

    BERSAMA MENANTU LAKI-LAKI
    1. Selektif dalam memilih menantu laki-laki (agama dan akhlak).
    2. Membant putrinya dalam membahagiakan suaminya.
    3. Berbuat adil kepadanya.
    4. Bijaksana dalam memecahkan masalah.

    BERSAMA FAMILY & KERABAT
    1. Menyambung silaturahim, berbakti, mempergauli dengan cara yang baik. Urutan berbakti:
    2. - Orang tua
      - Karib kerabat
      - Anak yatim
      - Orang miskin
      - Ibnu sabil
      - Tetangga

    3. Mengatur waktu untuk mengunjungi karib kerabat (dari yang dekat maupun jauh).
    4. Memiliki toleransi tinggi terhadap non muslim.

    BERSAMA TETANGGA
    1. Memprioritaskan tetangga terdekat dalam berbuat baik.
    2. - Tetangga dekat adalah tetangga yang terikat dengan pertalian darah atau agama.
      - Tetangga jauh adalah tetangga yang tidak terikat dengan pertalian darah dan agama. Adapun teman sejawat adalah yang menemani kita dalam kebaikan.
    3. Tidak ragu menyampaikan kebaikan pada tetangganya.
    4. Sabar dengan perilaku buruk tetangga.

    BERSAMA SAUDARA & TEMAN
    1. Bercinta dan bersaudara karena Allah
    2. "Mudah-mudahan Allah mencintaimu karena engkau telah mencintaiku karena-Nya. (HR. Abu Daud)"
    3. Tidak boleh bermarahan (mendiamkan) lebih dari 3 hari.
    4. Bersua dengan saudara-saudaranya dengan wajah yang ceria.
    5. Menyebarkan nasehat untuk kebaikan saudaranya.
    6. Berbakti dan setia sebagai landasan islami.
    7. Lemah lembut terhadap temannya.
    8. Tidak menggunjing.
    9. Menghindari permusuhan, canda yang menyakitkan dan ingkar janji.
    10. Pemurah dan dermawan terhadap saudara.
    11. Mendoakan saudaranya dari kejauhan.

    BERSAMA MASYARAKAT
    Di mana pun ia berada, ia menjadi lentera dan mampu menerangi masyarakat dengan hidayah
    1. Berakhlak terpuji.
    2. Menghiasi diri dengan akhlak terpuji, luwes dalam pergaulan, ringan dalam memberikan bantuan, lemah lembut bertutur kata, memikat penampilannya, indah gerak-geriknya dan mencintai serta dikasihi sesama.
      Orang yang rasul benci dan paling jauh dengannya di hari akhir antara lain:
      - Orang yang berbicara tidak berfaedah.
      - Orang yang berbicara tidak dipikirkan dan dipahami terlebih dahulu.
      - Orang yang takabur.

    3. Jujur, karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan yang menghantarkan ke surga.
    4. Menunjukkan kebaikan, hatinya tidak terkotori debu ananiyah (egois) dan tidak ternodai oleh cinta popularitas.
    5. Menjaga kesucian diri, tidak pernah menggibah, dan meminta-minta orang-lain.
    6. Menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat.
    7. - Tidak mencampuri urusan orang lain. Misalnya tidak melayang pandangannya kepada wanita di sekitarnya untuk mengetahui persoalan pribadi mereka, baik yang dekat atau jauh.
      - Tidak mengumbar kata-kata tidak berguna. Berikut ini adalah 3 hal yang Allah benci:
      a. Banyak bicara.
      b. Banyak bertanya.
      c. Menyia-nyiakan harta benda.

    8. Adil dalam mengambil keputusan.
    9. Tidak berlaku zalim.
    10. Penyayang dan lemah lembut terhadap orang lain
    11. Murah hati dan dermawan.
    12. Memuliakan tamu, menyambut dengan segera.
    13. Itsar (mengutamakan orang lain).
    14. Menyesuaikan adat dan kebiasaan secara islami.


    Jakarta, 19 Oktober 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
     Source: Personal Note's October 2015
    Image Source: Personal Album

Related image
Communication

#SerialLiqo
Dalam hidup bermasyakat komunikasi menjadi point utama. Komunikasi memegang peranan penting apakah hal yang disampaikan dapat diterima sehingga memberikan impact yang diharapkan, atau hal yang disampaikan hanya menjadi angin lalu.

Berikut ini adalah beberapa adab dalam berbicara kepada orang lain:
  1. Berbicara yang jelas
  2. Berbicara dengan jelas, sehingga pendengar memahami apa yang dibicarakan. Salah satu teladan yang bisa kita ambil dari sikap rasulullah adalah rasul sedikit berbicara (hanya mengeluarkan kata yang penting atau berfaedah).
  3. Berbicara dengan ungkapan sederhana.
  4. Tidak diulang-ulang kecuali ada hal yang ingin ditekankan.
  5. Ucapan harus bagus, tidak menggunakan bahasa yang kotor dan munkar (jahat).
  6. Meninggalkan pembicaraan yang bukan kepentingannya.
  7. Menahan diri dari ucapan jahat yang tidak membawa kemaslahatan.
  8. Maksudnya adalah jangan berdebat dengan para ahli kitab.
  9. Bersabat dalam berdialog dengan orang-orang bodoh atau jahil.
  10. Menjauhi tempat-tempat Kejahatan.

Adapun adab kita sebagai pendengar, adalah sebagai berikut:
  1. Diam & mendengarkan sehingga paham.
  2. Tidak memotong pembicaraan orang lain.
  3. Menghadapkan wajah kepada pembicara (selama masih dalam koridor syariah dan tidak berpaling darinya).
  4. Tidak menampakkan sikap yang berbeda.
  5. Tidak menampakkan diri bahwa kita lebih alim (berilmu).

Jakarta, 15 Oktober 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Speaker : Ustadzah Candrawati
Image Source : Unkown

Pantai Anyer

Pantai anyer menyisakan bukti akan sejarah Indonesia. Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Anyer Panarukan adalah jalan raya sepanjang 1000 KM yang dibangun pada pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1809-1810). Sampai saat ini Jalan raya itu menyisakan sakit dan pilu yang mendalam. Karena sejarah mencatat Pembangunan jalan raya itu sangat kejam, banyak warga pribumi meninggal.

***
Sesampainya di laut ku khabarkan semuanya,
Kepada karang kepada ombak kepada matahari,
Tetapi semua diam, tetapi semua bisu,
Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit,
Barangkali di sana ada jawabnya,
Mengapa di tanahku terjadi bencana,

Mungkin Tuhan mulai bosan,
Melihat tingkah kita yang selalu,
Salah dan bangga dengan dosa-dosa,
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita,
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang,
- Lirik by Ebiet G. Ade

Lagu yang tepat untuk tempat yang tepat. Kali ini adalah liburan saya ke Pantai Anyer. Liburan ini terhitung liburan tak terduga. Karena setelah menikmati senja di Pantai Ancol saya tidak mengagendakan liburan ke pantai.

Pantai Anyer

Travelling Ke Pantai Anyer
Bagi saya pantai adalah tempat yang membuat saya selalu terpukau, yah walaupun hanya tentang air dan langit. Tapi bagi saya sendiri pantai memberikan ruang sendiri dalam hati saya. Entah itu suasana bagus atau tidak.

Sunset di Pantai Anyer

Ada pepatah bilang "Adanya kamu, pasti ada suatu hal yang tersembunyi di dalamnya. Kamu yang akan memberikan manfaat atau kamu diberi manfaat olehnya atau bahkan keduanya". Perjalanan ini pula yang memberikan saya pemahaman lebih mendalam tentang "EGO".

Ego adalah sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengarah individu kepada objek dari kenyataan dan menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan (Koeswara 1991: 33-34). Ego tampak sebagai pikiran dan pertimbangan (Ahmadi 1992: 152). Tugas ego adalah untuk mempertahankan kepribadiannya sendiri dan menjamin penyesuaian dengan alam sekitar (Bertens 2002: 71).

Saat itu kami mendapatkan masalah yang cukup seru. Dari masalah tersebut saya mampu menilai, bahwa begitu besarnya ciptaan Tuhan. Begitu kita terlalu kerdil untuk tidak mau menghamba kepadanya. Kami hanya beberapa orang, namun cara kami memandang dan menyelesaikan masalah begitu beragam. Ada si A yang bertahan dengan aturan perdunia bisnisan, ada B yang bertahan dengan emphaty yang besar. Ada lagi yang lain memandang kedua penalaran sikap di sisi tengahnya. Dan masih banyak lagi pendapat yang lain.

Lantas ego yang seperti apakah yang baik? Menurut saya pribadi tak ada ego yang terbaik, namun ego yang betul adalah ego yang kita sandarkan kepada mau-nya Tuhan, ridha-nya Tuhan. Dengan hal itu kita mampu bersikap sebagaimana menjadi manusia yang memberikan banyak manfaat, bukan menjadi manusia yang merusak dan menyakiti makhluk lain.


Jakarta, 10 Oktober 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source:  Personal Album


Training for Trainer

Tiba-tiba undangan itu masuk ke whatsappku. Tanpa ragu akupun menyambut dengan suka cita undangan itu. Maklum karena materinya adalah Palestina.

Jangan pernah melewatkan kesempatan (amanah) karena barang kali kesempatan itulah yang membawamu ke pintu Surga-Nya.
- Anita Sari Sukardi
***

Sayangnya aku hanya bisa hadir satu hari. Namun satu hari saja membuatku sangat bersyukur, begitu juga peserta yang lain pastinya. Sebagian peserta adalah ibu-ibu yang usianya jauh lebih tua dari aku. Namun semangatnya Masyaallah.

Aku merasa begitu kecil, selain kalahnya semangatku dibanding peserta yang lain masih banyak hal yang perlu aku punya setelahnya. Aku harus belajar lebih banyak. Aku harus bermanfaat lebih serius dan konsisten. Dan aku harus memanfaatkan kemampuanku di bidang Information Technology ini.


Training for Trainers Palestine

Tak ada air mata yang sia-sia pada hari itu. "Kemenangan tak akan pernah digapai seorang diri, kemenangan akan terjadi jika Allah menginginkannya menang".  Kami berjuang bersama. Ikut andil bersama dalam kemenangan ini. Kemenangan yang tak akan lama lagi.

Apa yang akan berbeda dengan adanya kamu dalam kegiatan/acara ini? Mengapa kamu perlu ada? Mengapa kamu dan bukan orang lain sementara setiap orang di sini memiliki kesempatan yang sama?”
- Novioctavia
Dan aku percaya, pasti akan ada suatu hal baik yang akan terjadi. Meskipun kecil namun pasti. Berbahagialah karena Allah memilih kita berada di tempat ini, di detik ini.

Jakarta, 26 September 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Adara & Personal Album