Anita Sari Sukardi

"Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi."
(Penggalan QS. Ar Ra'd : 17)



Sia-sia

Agak tricky memang membicarakan hal-hal yang sia-sia dalam hidup. Satu atau beberapa orang mengerti namun kebanyakan darinya tidak tahu harus bagaimana. Banyak hal yang terpikirkan, namun hanya berputar-putar saja ditempat.

***

Belakangan ini aku membuka-buka lembaran catatan harian yang dari dulu aku tulis. Miris rasanya, karena ternyata banyak hal yang begitu saja terlewat. Ah. Mungkin ini saatnya bangkit dari keterpurukan diri sendiri, atau aku akan menyesal selamanya.

Dari catatan yang aku tulis, ada satu bagian yang menjelaskan poin-poin hal-hal yang sering disia-siakan oleh manusia. Sayangnya aku tidak menulis sumbernya. Maafkan. 

Hal-hal yang sering disia-siakan itu antara lain sebagai berikut:
  1. Bertemu dengan orang berilmu tetapi tidak ditanyai.
  2. Ilmu tidak diamalkan.
  3. Pendapat benar, namun tidak diterima.
  4. Senjata yang tidak digunakan.
  5. Masjid yang tidak ditegakkan sholat di dalamnya.
  6. Quran yang tidak dibaca.
  7. Harta yang tidak diinfakkan.
  8. Kendaraan yang tidak dipakai.
  9. Ilmu kezuhudan bagi pecinta dunia.
  10. Usia panjang tidak menambah bekal di akhirat.
Belajarlah sehebat mungkin, seperti Allah tidak akan membantu jika anda tidak pandai, tapi berdoalah sekhusyuk mungkin seperti semua kepandaian anda tidak ada gunanya.

Bandung, 14 Desember 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Google Source

Free ebook untuk anak-anak
***

Dear mom and all of the reader. Jadi ceritanya saya ingin membeli buku-buku untuk anak saya, sayangnya harga buku-buku untuk anak-anak mahal-mahal. Malah harga buku untuk anak-anak dibilang lebih mahal dibanding buku lain yang untuk seumuran remaja ke atas.

Beranjak dari situlah saya ingin berbagi ebook yang saya miliki dengan warga net sekalian. Insyaallah ebook yang saya punyai ini halal untuk disebar luaskan.

DOWNLOAD EBOOK ANAK



Bandung, 4 Desember 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Google


Muslim Planner 2019

"Cara terbaik yang bisa kita lakukan untuk memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya", kutipan dari Stephen Covey.
***
 Alhamdulillah 2019 akan segera datang. Setelah tahun ini mungkin kita belum maksimal dan banyak hal yang terlewat so mari kita siapkan 2019 sebaik mungkin dari sekarang. Mari menyusun target-target di 2019 dan secara kontinyu serta disiplin menjalankan program-program yang sudah dibuat.

Muslim planner yang saya share ini adalah modifikasi muslim planner 2018 yang saya edit tanpa menghilangkan identitas owner asli. Tujuannya adalah untuk berbagi kepada siapa pun sehingga bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menjadi pribadi yang lebih baik.






Bandung, 4 Desember 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Google

Beberapa waktu lalu saya mengikuti acara "Family Gathering" kantor. Setelah beberapa kali tidak bisa mengikuti beberapa acara kantor, akhirnya pada kesempatan ini bisa bergabung juga. Gathering diadakan di Sari Ater Bandung, tidak jauh memang tapi cukup menjadi hiburan bagi kami para pegawai.

Seperti biasanya acara terdiri dari team building, sharing malam, hiburan, dan permainan. Kali ini saya tidak begitu in mengikuti acara terutama yang berkaitan dengan banyak gerak. Maklum sedang berbadan dua. Bedanya tahun ini suami saya yang aktif mengikuti beberapa acara.

Malam hari sesi sharing malam, direktur memberikan sepatah dua kata yang menurut saya cukup bagus. Beliau menjelaskan beberapa hal tentang waktu. Yah ternyata memang begitu singkat, ketika kita hidup dengan kontrak beberapa tahun maka kontrak itu akan selesai pada waktunya. Lalu yang tersisa hanyalah penyesalan, karena kurang maksimalnya detik-detik berlalu.

Sebagian besar dari kita pasti menghabiskan waktu untuk bekerja, lantas bagaimana agar "bekerja" tidak berlalu begitu saja? Bagaimana agar bekerja bernilai ibadah? sehingga kita tidak merugi di kemudian hari.

Agar bekerja bernilai ibadah
  1. Niat karena Allah dan pelaksanaannya harus berlandaskan keimanan dan sesuai tuntunan.
  2. Berkerja dengan sungguh-sungguh dan profesional.
  3. Bekerja dengan jujur dan bertanggung jawab.
  4. Menjunjung tinggi etika dan moral.
  5. Tidak melalaikan diri dari ibadah wajib kepada Allah.
  6. Di sisa waktu (ketika selesai bekerja dan masuk waktu tidur) maka laksanakan adab-adab ketika hendak tidur.
“Dan Katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan di kembalikan kepada ( Allah ) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”
(Q.S. At-Taubah: 105)

Bandung, 6 November 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Google



Sembilan bulan sudah saya menyandang status seorang "Istri". Sejak bulan Mei, saya sudah berada di Bandung meninggalkan hiruk pikuk kota Jakarta. Kota yang lebih mendewasakanku.

Betul kata orang-orang, bahwa kehidupan rumah tangga akan jauh berbeda ketika masih lajang. Berumah tangga selain harus siap dengan hadirnya pasangan, harus siap juga dengan peran orang tua.

***

Ijinkan menceritakan kisah hidup saya yang ke-sekian kalinya. Semenjak saya serumah dengan suami, saya dan suami hidup dengan sederhana. Tempat tinggal kami tidak seperti pasangan yang lain yang sudah mempunyai rumah sendiri dan isi rumah yang lengkap. Tak ada sofa untuk tamu, kulkas, mesin cuci dan tentunya barang-barang lain yang umumnya ditemukan di rumah orang lain. Meskipun banyak beberapa hal yang kurang dalam rumah kami, kami tidak merasa kekurangan itu sebagai beban dan penghambat aktivitas kami sehari-hari. 

Rumah kami melewati jalan besar yang di pinggir jalannya terdapat banyak pertokoan. Ada salah satu toko yang memajang sebuah lemari es. Ada rasa untuk memiliki benda itu di dalam hati. Karena beberapa kejadian yang membuatku sedikit miris, apalagi insyaallah kami akan mempunyai anak pertama. Namun apa daya, karena kami merasa benda itu belum menjadi prioritas UTAMA kami, maka saya memilih bersabar sembari selalu bersholawat.

Tiap kami bepergian melintasi toko itu, sembari memandang benda itu saya bersholawat. Selalu. Selalu. Dan selalu.

اللَّهُمَّ صّلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

Percaya atau tidak. Alhamdulillah. Bebeberapa hari lalu, datanglah benda itu ke rumah kami. Allah memberikan hadiah itu untuk kami. Di saat tak ada tempat bagiku untuk berkeluh kesah dan meminta (karena saya malu, dan saya bukan pengemis), maka hanya kepada Allah lah satu-satunya tempatku berharap dan meminta.

Bandung, 6 November 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Google

Perjalanan Hidup Manusia

Bicara mengenai kematian, tak sedikit orang yang ditanya tentang kematian menjawab "Kematian pasti datang" dan sering kali terdengar jawaban "Saya tidak siap mati". Sebenarnya ada beberapa alasan yang membuat manusia berkata "Saya tidak siap mati", antara lain tidak mengenal tuhan, tidak memiliki persiapan yang cukup untuk mati, dan khawatir dengan keluarga yang akan ditinggalkan.

Sering kita jumpai Al-Quran sering membicarakan tentang kematian. Al-Quran menyamakan kematian dengan tidur. Karenanya lah sakaratul maut (datangnya kematian) tidak selalu diartikan dalam kengerian (menyakitkan). Sakaratul maut menghampiri setiap umat manusia secara menyenangkan atau menyakitkan tergantung pada faktor eksteren amal seseorang.

Sehingga manusia tidak perlu takut dengan datangnya kematian, yang perlu ditakuti adalah apa yang terjadi setelah kematian. Yaitu pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukan di dunia tentang tiga hal di bawah ini;
  1. Umur
  2. Harta
  3. Ilmu
Lalu bagaimanakah proses kematian itu terjadi?

A. Sebelum Mati
Akan dimulai dengan nyawa akan terasa menghilang sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya nyawa berada di puncaknya yaitu di kerongkongan. Ketika nyawa berada di kerongkongan maka beberapa orang di sekitarnya akan mendengar suara melekik yang keluar.

B. Mati
Ketika telah mati maka roh manusia akan pergi ke alam barzah, pada saat ini diindikasikan bahwa jasat berada di kubur. Alam barzah diumpamakan sebagai ruangan yang tertutup kaca, apabila roh menoleh ke kiri maka akan terlihat keadaan di dunia. Roh melihat keluarga-keluarga yang ditinggalkan. Sedangkan apabila roh menoleh ke kanan, roh akan melihat gambaran akhiratnya nanti (surga atau neraka). Maka sebagai manusia yang masih hidup dan keluarga dari roh yang telah meninggal sebaiknya kita menjaga perbuatan kita agar roh tersebut tidak sedih, dan tidak merasa terbebani. Di Alam barzah inilah roh menanti ditiupnya sangkakala.

Ketika terdengar tiupan sangkakala ke dua, semua orang digiring ke Padang Mahsyar dengan keadaan telanjang. Pada saat itu semua orang sibuk dengan urusan masing-masing.

Ya Allah, permudahkanlah perhitungan amalku

Lalu bagaimanakah cara yang tepat untuk menjemput maut?
Sejatinya manusia di dunia ini ada dua kondisi antara lain menyelesaikan tugas sebagai seorang muslim/manusia yaitu menciptakan kedamaian (Tuhan, orang lain, lingkungan) dan menanti kematian dengan siap dan melupakan kematian.

Sehingga satu-satunya yang bisa kita lakukan selagi masih ada waktu adalah "Jangan mati kecuali dalam islam", apa maksudnya? Yaitu jangan sesaatpun menjauh dari tuntunan Islam. Jika ingin menjemput maut, jangan sekali-kali keluar dari koridor ajaran islam. Selalu bersiap setiap saat melakukan kebaikan untuk menciptakan kedamaian (Tuhan, orang lain, lingkungan) dalam koridor Islam.


Bandung, 12 Oktober 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Google Source
Speaker: M. Quraish Shihab

Leboh (Kepulauan Riau), 2018


Alhamdulillah bisa posting pertama setelah saya menyandang status #IstriBapakRiyan. Perjalanan menjadi seorang istri tak mudah memang, berawal dari merasa #guemasihsingle (karena selama satu bulan lebih saya dan suami harus LDR. Beliau di Bandung dan saya di Jakarta) sampai benar-benar menjadi istri.

***

Hunting tiket sudah kami lakukan setelah kami menikah, namun apa daya tetap saja berakhir dengan cuci mata saja yang pada akhirnya tiket terbeli 1-2 bulan menjelang keberangkatan yang nyatanya tiket lumayan mahal guys.

Kami memasuki ramadhan, ah rasanya ada yang hilang. Jikalau tahun lalu saya banyak berkutat dengan masjid dan anak-anak kecil. Kali ini berbeda, saya lebih banyak berkutat di rumah. Karena begitulah yang suami awak mau. Sedih pastilah, tapi saya percaya akan janji Allah kepada hamba-Nya. 

2 Minggu sebelum keberangkatan. Sudah hampir satu minggu ada yang salah dengan badan saya. Terlalu sering mual, dan saya merasa badan ini mulai mudah lelah. Lalu saya mulai memberanikan diri mencari informasi tentang tanda-tanda kehamilan. Saat saya sudah merasa tidak sanggup lagi menahan mual dan muntah, akhirnya kami membeli testpack. Saya tertegun melihat hasilnya, berfikir "Begini ya kalau hamil? Dua strip merah?" lalu saya foto hasil testpack-nya dan langsung saya kirim ke telegram suami awak. Balasan datar melayang dari beliau, "hamil". Sesudahnya kami memutuskan untuk periksa kehamilan ke dokter kandungan. Dokter yang berjodoh dengan bayik adalah Dr. Hanny Rono di RS. Santosa Hospital.

Dr. Hanny tak langsung melakukan USG kepada bayik, beliau bilang akan percuma karena bayik masih kecil dan baru berupa kantong saja. Menjelang pulang seusai konsultasi kami diberi oleh-oleh Muratal Quran untuk diselesaikan khatam ketika ramadhan. Alhamdulillah.

***

Bismillah ya bayik, kita mudik. Mamah tau bayik kuat. Mamah sayang bayik, pabun juga sayang bayik. Let's go!!!
Perjalanan panjang kami mulai bertiga. Sebenarnya banyak yang khawatir, karna umur bayik masih sangat kecil. Mamahnya yang tak sekuat ketika lajang pun jadi penambah haru suasana. Tengah malam kami menuju ke Stasiun Kiara Condong untuk keberangkatan ke Jakarta. Kami sampai di Jakarta menjelang subuh. Kemudian kami langsung memesan go-car menuju Bandara Soekarno Hatta. Setelah menunggu sejenak di Bandara, akhirnya kami terbang menuju Batam. Dalam hati tak henti-hentinya saya bersyukur, akhirnya saya bisa sampai di bagian utara Indonesia selain Bangka Belitung. Mengingat memori masa lalu yang hampir hilang, ternyata dulu suami awak pernah berujar bahwa ia akan membawa saya ke Riau. Saya pikir dulu itu hanya bualan semata, karena kami masih remaja. Tentu saja itu saya anggap hanyalah rayuan cowo tengil kepada seorang wanita.

Sesampainya di Batam, kami langsung menuju Pelabuhan Sekupang untuk menuju ke Balai Karimun. Lalu dilanjutkan perjalanan ke Pulau Leboh. Kapal di sini banyak dan jadwal keberangkatannya berbeda-beda. Perjalanan dari Batam menuju Balai Karimun kurang lebih satu setengah jam. Kami menggunakan kapal Miko. Kata suami awak, nama perusahaan PT. Miko Natalia diambil dari nama pasangan suami istri. 

Sesampainya di Balai Karimun, kami sudah di jemput oleh Bulek Tini. Beliau adalah istri dari Om Man. Awalnya kami berfikir akan meginap semalam di Balai. Dalam hati saya berdoa, agar kami bisa langsung sampai ke Leboh tanpa menginap di Balai. Doa saya ternyata diijabah oleh Allah. Setelah bulek bertanya ke sana kemari, alhamdulillah ada jadwal kapal menuju Pulau Leboh. Kami pun langsung memutuskan untuk berangkat ke Leboh menggunakan kapal Miko lagi.

Di kapal saya memutuskan untuk duduk di dekat pintu masuk kapal atas ijin dari suami awak. Banyak orang bertanya menggunakan Bahasa Melayu, dan itu sukses membuat saya cengoh (tidak paham). Saya tak mengerti sedikitpun pertanyaan-pertanyaan orang melayu ini. Saya lebih sering menjawab pertanyaan dengan senyum.

Sepanjang perjalanan, saya lebih sering mengobrol dengan bayik. Beberapa rayuan kepada bayik semisal agar ia kuat, bayik hebat bisa ikut mudik, bayik sebentar lagi bertemu dengan uyut dan masih banyak lagi perbincangan dengan bayik yang hanya saya dan bayik yang tahu apa isi perbincangan kami. Sembari memandangi lautan lepas, kapal beberapa kali berhenti di beberapa pulau untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Beberapa pulau itu antara lain Buru, Penara dan ada beberapa lagi yang saya sudah lupa.

Sesampainya di Leboh kami dijemput oleh Om Man dan Dek Sekar. Jarak antara rumah Tuk dengan pelabuhan sangat dekat. Hanya membutuhkan waktu 3 menit (bahkan kurang) untuk sampai di rumah Tuk. Kami lelah sekali, sambil selonjoran kami menunggu waktu berbuka. Waktu berbuka di Leboh terasa sangat lama. Hanya hamdalah dan istighfar yang mampu membunuh waktu kala itu.

***

Pengalaman ajaib di Leboh adalah waktu terasa sangatlah lama padahal sama saja dengan waktu di belahan Bandung atau Jakarta. Selain itu jika kalian adalah anak milineal yang tiap waktu dan tiap saat tak bisa lepas dengan internet maka Leboh adalah neraka guys. Only Telkomsel yang ada sinyal, itupun E jika belum jam 5 sore sampai 7 pagi, di luar jam itu maka kalian akan tercengang mendapatkan H+. Bersabar adalah senjata pertama dan terakhir jika ingin berinternetan di Leboh. Selain itu, listrik pun menyala di jam yang sama. Suami awak bercerita bahwa kondisi saat ini di Leboh jauh lebih baik dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, sebelum ada pembangunan oleh pemerintah. Lantas aku pun berfikir, kenapa baru pemerintahan sekarang (Pemerintahan Jokowi) yang mau memikirkan daerah pelosok Indonesa, kenapa dari dulu selalu pulau Jawa? Ah sugguh, terima kasih Pak Jokowi.

***

Lebaran kali ini berbeda, karena statusku baru. Karena aku mempunyai keluarga baru. 
Pagi-pagi aku begitu bahagia karena Allah menyampaikanku pada Ied 1439H ini dengan adanya bayik dalam rahimku. Dengan penuh semangat aku mengenakan baju yang sudah aku persiapkan ketika di Bandung untuk menyambut lebaran kali ini. Tak baru memang, tapi istimewa. Baju pemberian suami sebagai seserahan pernikahan. Ketika shalat ied, entah kenapa tiba-tiba saja air mata mengalir begitu saja mengingat tahun ini aku hanya mampu mengirim barang ke rumah orang tuaku tanpa kehadiranku di lebaran kali ini. Selesai shalat, saya pulang ke rumah Tuk. Ada sedikit sesak rasanya. Saya membayangkan bagaimana beratnya mamah berlebaran di rumah sendirian. Saya pun tidak bisa berbuat apapun, tak ada sinyal. Saya hanya berharap semoga mamah mengerti dan keluarga yang lain pun melakukan hal yang sama.

Berbeda daerah, berbeda budaya. Dan itulah yang aku lihat kali ini. Di Leboh tak ada kebiasaan sungkeman sebagai tanda wujud permintaan maaf dari yang paling muda ke yang paling tua seperti di Jawa. Tak ada memberi uang jajan untuk anak-anak kecil juga. Mungkinkah tradisi ini yang membuat seseorang menjadi malas untuk meminta maaf dan berterima kasih? Entahlah.

***

Hari berlalu, dan akhirnya saya akan segera mengakhiri masa liburan di Leboh. Sehari sebelum penerbangan kami menginap di rumah Om Man (Balai Karimun). Dari Leboh saya berangkat terlebih dahulu dengan bulek Tini ke Balai Karimun. Rasanya surga, akhirnya bisa menikmati listrik 24 jam, akhirnya bisa mendapatkan sinyal, dan yang paling berharga adalah saya bisa berkeliling di Balai.

Saya dan bulek berkeliling menggunakan motor, rasanya sangat nikmat. Keinginan untuk makan mie ayam pun akhirnya terwujud, dan rasa mie ayam-nya JUARA guys. Enak sekali. Super duper mantap. Dan di sinilah saya baru paham kalau KEPRI itu adalah singkatan dari Kepulauan Riau. Oh my lord. 

Sore harinya om Man dan suami baru tiba di Balai. Dari penjelasan suami,  ada beberapa kapal yang melewati Leboh namun tak mengambil penumpang di Leboh yang kemudian ketika kembali ke rumah, Tuk menertawakan suami awak. Alhasil mereka baru berangkat ketika sore menjelang.

Bandara Hang Nadim Batam

Salah Satu Pulau Sebelum Sampai di Leboh

Pelabuhan Leboh yang Tidak Jauh dari Rumah Tuk

Masjid Sholat Tarawih dan Ied yang Tidak Jauh dari Rumah Tuk

Balai Karimun, Rumah Om Man

Bakso Arema, Mie Ayam Super Lezat

Bus Kota Balai Karimun

Steak Ala Bulek Tini

Bandung, 30 Juni 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album




Hey guys. Are you need a job? Are you love coding? Try to submit your CV to me. Join with me to benefit your life. If you have any question, please ask me on phone/whatsapp +62 85 689 80008 or mail anitasari.sukardi@gmail.com



Bandung, 15 Mei 2018 | © www.anitasarisukardi.com
Image Source: Office Album