Anita Sari Sukardi

"Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi."
(Penggalan QS. Ar Ra'd : 17)



Undangan


Mendapatkan undangan itu berat, karena hukumnya wajib bagi kita yang menerima undangan. Kita wajib menghadiri undangan tersebut jika tidak ada uzur atau halangan yang syar'i untuk tidak datang atau menolak undangan tersebut. Maka bagi pengundang pun berat bebannya, karena harus mengetahui kadar kemampuan orang yang akan diundang.

Berikut adalah dalil yang menguatkan kewajiban memenuhi undangan.
Hak seorang muslim terhadap seorang muslim ada enam perkara.” Lalu beliau ditanya; ‘Apa yang enam perkara itu ya Rasulullah?’ Beliau menjawab: “Bila engkau bertemu dengannya, ucapkanlah salam kepadanya, bila dia mengundangmu, penuhilah undangannya.
(HR.Muslim)

Jika salah seorang di antara kalian diundang walimah, maka hadirilah.
(HR. Bukhari no. 5173 dan Muslim no. 1429)

Imam Ash Shan’ani rahimahullah menyebutkan, “Para ulama mengkhususkan wajibnya memenuhi undangan walimah dan semacamnya. Selain itu dihukumi sunnah. Karena untuk undangan walimahan diancam dengan suatu hukuman, sedangkan untuk undangan lainnya tidak demikian.” (Subulus Salam, 8: 133).

Namun ada pendapat lain yang menyebutkan bahwa mendapatkan undangan itu bersifat sunnah (Jumhur Ulama).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai tetangga seorang bangsa Persia yang pandai memasak. Pada suatu hari dia memasak hidangan untuk Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam. Setelah itu dia datang mengundang beliau. Beliau bertanya: “‘Aisyah bagaimana? orang itu menjawab: ‘Dia tidak!’, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kalau begitu aku juga tidak!”, orang ittu mengulangi undangannya kembali. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bertanya: “‘Aisyah bagaimana?” orang itu menjawab: ‘Dia tidak!’, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kalau begitu aku juga tidak!” Orang itu mengulangi undangannya pula. Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam bertanya: “‘Aisyah bagaimana?” Jawab orang itu pada ketiga kalinya; ‘Ya, ‘Aisyah juga.’ Maka Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam pergi bersama ‘Aisyah ke rumah tetangga itu.
Hadst Anas

Jakarta, 8 Februari 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album


Kita tak akan benar-benar bahagia sebelum kita mengenali diri kita sendiri.
(Anita Sari Sukardi)

Jujur dalam KBBI berarti a) lurus hati; tidak berbohong (misalnya dengan berkata apa adanya). b) tidak curang (misalnya dalam, dengan mengikuti aturan yang berlaku). c) tulus; ikhlas. Sudahkah kita jujur terhadap diri sendiri? Sudahkah kita jujur kepada orang lain?

Untuk kalian yang berani mengambil langkah, gue sangat saluuut karena bukan hal yang mudah untuk jujur terhadap diri sendiri, mungkin kita sering menjunjung tinggi kata itu. Namun tanpa sadar diri kita justru membohongi diri sendiri.

Termasuk gue. Sejauh ini ternyata gue adalah tipikal orang yang tidak ingin menyakiti hati orang lain, dan lebih memikirkan orang lain ditimbang diri sendiri. Akibatnya adalah gue sering kali sesak di hati, sering merasa tak adil atas semesta ini (*padahal mah memang diri sendiri yang membuat ulah). Beberapa waktu lalu, gue menulis tentang mimpi di akun instagram. "Mimpiku sederhana, bahagia!". Yah dari situlah gue mulai berdamai dengan diri sendiri, menghargai diri sendiri lebih baik lagi. Meskipun sejujurnya sebelum itu gue sudah mencoba, yang berbeda adalah kali ini adalah totalitas terhadap itu.

Dulu awalnya terasa memang sulit. Namun lambat laun gue terbiasa. Apa yang gue ga suka dari orang (*terdekat) akan gue bilang. Apa yang gue inginkan gue juga bilang ke orang yang bersangkutan. Apa yang gue ga suka dari orang lain juga gue bilang. Yang jelas apa yang gue lakukan adalah jujur terutama terhadap diri sendiri. Kalaupun orang lain tidak merespon, setidaknya gue sudah berusaha jujur.

Dampak positif yang gue dapatkan adalah gue bahagia atas apa yang telah gue lakukan, gue tidak menipu diri sendiri. Hati gue merasa lega, tenang. Sedangkan untuk dampak negatifnya, gue sih ga terlalu mikirin.

Percayalah, bahagia itu datangnya bukan dari materi atau dari orang lain. Melainkan dari diri sendiri. Maka belajar jujurlah pada diri sendiri tentang apa yang kamu mau dan kamu tidak suka. Jadikan diri menjadi orang yang lebih baik. Ketika pagi membuka mata, beryukurlah dan berterima kasihlah. Karena dirimu tidak meninggalkan dirimu.


Jakarta, 12 Januari 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album


Siapkan seribu alasan untuk berhusnudzan dalam menghadapi ujian, sehingga kamu merasakan kenikmatan yang hakiki adalah buah dari kesabaran.
- Anita Sari Sukardi

Beberapa dekade ini secara tidak langsung, Allah mengajarkanku betapa berartinya sikap sabar dan hasil dari buah kesabaran merupakan nikmat yang hakiki.


Sabar itu tidak datang dari langit, karena sabar itu harus diperjuangkan.

Rasanya jika buah kesabaran itu adalah kenikmatan yang hakiki, maka menjalaninya pasti tidak mudah. Namanya juga ujian ya kan. Lalu apakah sabar itu harus melulu dengan ujian hidup yang selalu menderita? Tidak. Justru kesabaran ini menaungi kita dalam berbagai keadaan hidup. Entah senang ataupun susah. Sabar berkolaborasi dengan menahan diri, ikhlas, dan tawakal.

Apa yang kita niatkan dari awal ketika memutuskan suatu hal, maka jadikanlah itu sebagai penguat dalam kesabaran. Kalaulah kita kehabisan dalam bersabar, maka ingatlah bahwa kita punya seribu alasan untuk berhusnudzan. Jangan mengeluh atau mengutuki apa maunya Allah. Allah pasti punya rencana yang baik untuk kita. Bersyukurlah.

Jika boleh aku meminta, "Allah jadikan kesabaran menjadi salah satu akhlak yang akan membawaku ke pintu surga-Mu"

Tertanda aku yang sedang berjuang, belajar tentang arti sabar, bersabar dengan keadaan, bersabar dengan semua yang aku punya, bersabar dengan masa depan yang masih tanda tanya, dan tentu saja bersabar dengan berbagai macam perasaan.


Jakarta, 29 Januari 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album
  



Udara pagi begitu menusuk hari ini. Mengingat beberapa kejadian belakangan ini yang terasa begitu berat. Saat ini nyaris 7kg berat badanku berkurang.

Bagaimana aku bisa percaya, jika dirimu saja tak mau berusaha mengusahakan menjaga perasaan seseorang? Lalu bagaimana aku nanti? Apakah denganmu surga menjadi semakin terasa dekat? Sedang air mata begitu sering jatuh. 

***

Di saat hati remuk, bersyukur otakku yang masih bekerja dengan waras memberiku pesan, "Ini hanyalah bagian cara Allah akan memuliakanmu. Failed or success bergantung caramu menyelesaikannya".

Sejujurnya di dunia ini tak pernah ada seorang pun yang menginginkan kesedihan, ketidaknyamanan, kekurangan. Hei tapi ingat ini adalah dunia, tempat di mana kita menanam semua hal yang nantinya akan kita panen di akhirat. Kita bergulat dengan berbagai macam cara pandang, yang tentunya kita sendiri tak tahu sejauh mana cara pandang itu.

Bagi kita yang paham betul dengan sifat dasar manusia lagaknya harus lebih bersikap dewasa, lebih toleran. Lantas bagaimana ternyata kebaikan kita, semua hal yang sudah kita usahakan ternyata sia-sia? Terkhianati? Entahlah, percaya saja bahwa Tuhan akan memberikan ganti yang terbaik pada akhirnya. Semua hal ini hanya skenario ujian.

Berkomitmen berarti saling memantaskan, bukan saling melengkapi. Kuatlah terlebih dahulu, karena jika ia pergi duniamu tak akan pernah runtuh dan kamu tak akan pernah terpuruk.

Masing-masing individu punya air mata kisahnya sendiri. Mungkin kamu akan cemburu dengan kisah orang lain yang tak seindah kisahmu. Ketika berat bagimu berkata, cukuplah Tuhan menjadi tempat sandaranmu dan pelabuhan terakhirmu.


Jakarta, 25 Januari 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album



Allah selalu membuka pintu maafnya sampai hembusan nafas terakhir anak adam.
(Anita Sari Sukardi)


Tulisan ini bukan berarti karna aku ikut euforia 'Tahun Baru', bagiku setiap hari dan setiap hembusan nafas adalah adalah kesempatan. Kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik di mata Allah.

Satu tahun terlewat, banyak suka duka serta banyak pula target yang tidak tercapai. Sedih! But, i'm not the typical of person who easy to down. Hidup harus semangat. Mencari bekal pulang harus semangat bukan? Yah meskipun jauh dari kata sempurna, bahkan terlalu banyak dosa sepertinya.

Beberapa waktu belakangan ini aku begitu menyibukkan diri. Alih-alih ternyata berat badanku sukses turun hampir 5 kg. Bahagia? Iyalah. Yah meskipun dibilang udah terlalu kecil, tapi menurut gue dengan badan yang kecil justru membuat gue melangkah lebih ringan serta tidak merepotkan orang lain. Selain itu gue ga bakal kerepotan karna memilih baju kebesaran, ga kerepotan ga dapet kursi di mobil, ga kerepotan juga kalau makanan sudah pada habis. Toh perut gue kecil jadi nyemil dikit kenyang. Alhamdulillah.

Sejujurnya gue emang sengaja sih makan ga terlalu banyak, demi mengikuti ajaran baginda Rasulullah. Beliau mengajarkan pada gue bahwa kalau makan itu jangan sampe perut kenyang, selain itu menjaga body. Beliau not fat anyway. Beliau ganteng, beliau sexy dan tentunya perfect. Karna itulah gue juga ga mau jadi gendut.

Lantas apa yang saya kerjakan? Sebenarnya tidak yang begitu berat. Mungkin lebih ke otak yang bekerja terlalu capek. Yang jelas, apa yang saya usahakan semoga menjadi keberkahan dunia dan akhirat.

Di tahun ini semoga Allah memampukan saya untuk menyelesaikan segala ujian ini, kemudian berlanjut ke ujian berikutnya. Semoga saya menjadi istri yang diidam-idamkan suami serta keluarganya, menjadi lebih berbakti kepada orang tua, berpenghasilan dan jabatan lebih baik, lulus tahun ini,  bisa mengajar lagi, bisa melanjutkan bisnis, bisa jalan-jalan keliling indonesia, bisa melanjutkan studi tanpa halangan and last but forever semoga saya bisa semakin lebih taat kepada Allah, ndak bandel, nggak ngeyel, ga males baca buku and else yang panjang banget kalau dirunut. Amin.


Jakarta, 10 Januari 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album


Sabar, syukur. Karena Allah tahu yang kita butuhkan. Karena Allah lebih tahu tujuannya menguji kita untuk apa.

Jadi gue boleh teriak ga?
Gue boleh lari engga?

Jangan lari, karena lari tak akan menyelesaikan masalah. Mungkin beberapa hal yang kita rasa benar-benar merusak jiwa dan raga. Hal tersebut terlihat misalnya secara drastis berat badan yang turun, atau sulit sekali bagi kita untuk fokus terhadap suatu hal.

Di dunia ini pasti bukan hanya gue yang punya masalah, bukan hanya gue yang selalu berpandangan lurus-lurus saja. Nyatanya dunia lebih kejam dan lebih mencekam. Ketika visual lebih membunuh, ketika tamparan tak ubahnya seperti gigitan nyamuk. Semuanya boom. Meledak sudah.

Di hidup gue banyak hal yang tak adil dari perlakuan orang tua. Maybe beberapa orang di dunia ini juga merasakan yang sama. Menjadi korban masalah orang tua, yang dikait-kaitkan dengan hal lain yang begitu menyesakkan.

Hidup ga simpel guys, kalau hidup serius maka mungkin saja ga ada Surga dan Neraka.

Yang tahu masalah kita itu cuma kita, orang lain ga akan pernah tahu dan ga akan pernah merasa.

Sudahlah, merendah saja. Turunkan egomu 1 mili saja. Merendah tidak akan membuat kita rendah di sisi Allah kok.

Jadi solusinya apa?
Ambil air, berwudhu. Gelar sajadahmu. Tundukkan kepalamu.

Jakarta, 4 Desember 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Unknown


Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun terkadang apa yang mereka inginkan tidak sesuai dengan kenyataannya. Barang kali orang tua terlewat dalam memberikan inputan kepada anak, sehingga tidak sesuai dengan yang diinginkan.
"You give, you get"

(Anita Sari Sukardi)

#SerialBaca
Bukan hanya satu dua pasangan yang berstatus orang tua yang lupa dengan tujuan, mimpi, ataupun motivasi ketika mendapatkan anak. Hal itu terjadi seiring dengan keadaan dan waktu mereka. Namun, seharusnya hal ini tidak bisa digunakan sebagai alasan. Harusnya meskipun apapun aral melintang, meskipun badai menerjang mereka tetap kukuh dengan perjuangannya yaitu tujuan, mimpi atau motivasi ketika telah mendapatkan anak.

Pada dasarnya setiap pertumbuhan manusia ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut:
  1. Kebutuhan pokok yang paling dasar yang diperlukan diusia tersebut.
  2. Bahaya yang paling besar terjadi diusia tersebut.
  3. Nilai-nilai apa saja yang kita tanamkan pada anak ditahapan usianya, dan bagaimana cara menanamkannya.

Dari ketiga point tersebut, mari kita bahas berdasarkan periode nya.

TAHUN PERTAMA
Tahun pertama adalah kategori untuk usia 1-3 tahun. Menurut ahli psikologi, usia 0-6 tahun ini disebut Golden Age. Tetapi ulama menyebutkan usia ini adalah Usia Fitrah. Semua nilai yang bermanfaat di usia dewasa, sebaiknya ditanamkan di usia ini.

  1. Kebutuhan Pokok & Ancaman
  2. Pada usia ini kebutuhan utama bagi seorang anak adalah makanan dan perhatian.

    Al Quran menyebut usia ini sebagai Rodho’ah (usia menyusui), yaitu dimana para wanita dianjurkan untuk menyusui. Serta menggenapkan susuan anaknya (jika tak ada halangan) selama 2 tahun bagi mereka yang ingin menyempurnakannya.

    Masa ini merupakan amalan utama bagi seorang Ibu di 2 tahun pertama setelah melahirkan. Ada hal yang menarik mengenai hal ini yaitu hikmah dari masa nifas dan tidak boleh sholat adalah keadaan ibu setelah melahirkan yang harus FULL menyusui. Allah ijinkan wanita yang sedang nifas untuk meninggalkan sholat dan puasa, supaya Ibu meluangkan waktu secara intens dan maksimal bersama bayinya. Selain itu, ketika hal buruk terjadi (perceraian) secara otomatis hak asuh anak akan jatuh ke pangkuan ibu. Hal ini didasarkan keutamaan menyusui tadi.

    Kemudian masa hadhonah (pengasuhan) ini adalah masa istimewa, yang jika Ibu tidak hadir mendampingi anak-anaknya, maka sungguh disayangkan. Menurut beberapa penelitian, anak yang berada di bawah pengasuhan seorang ibu secara langsung akan memiliki ketenangan dan kematangan sikap, dibandingkan anak-anak yang masuk ke lembaga pendidikan terbaik sekalipun.

    Masa penyapihan. Seorang ibu harus betul-betul memperhatikan masa ini, orang tua harus tepat saat menyapih. Anak akan terpukul saat ibu menyapih mereka, jika tidak tepat cara menyapihnya. Bangunan yang sudah dibangun selama menyusui akan runtuh dan bisa muncul kebencian pada orang-orang di sekitarnya jika di fase ini ia diolok-olok dsb. Proses penyapihan tidak bisa terjadi secara instan. Proses ini memerlukan waktu yang cukup panjang tergantung pada karakter anak masing-masing. Jangan pernah mencoba menyapih dengan cara ekstrim. Misalnya memberikan jahe pada puting, memberikan lipstik pada puting sehingga memaksa anak berhenti menyusu dengan cara yang tidak apik. Lalu bagaimanakah cara yang tepat melakukan penyapihan? Agar anak tidak merasa terpukul saat disapih, maka dekapan, pelukan dan usapan sayang tetap diberikan saat mereka tidak menyusu lagi.

  3. Nilai yang ditanamkan dan cara menanamkannya
  4. Nilai penting yang ditanamkan pada masa ini adalah Cinta dan Bahasa.
    Anak 1 tahun belum bisa bicara dan mengerti apa yang kita ucapkan pada mereka, atau yang terjadi di sekelilingnya. Tapi anak bisa merasakan ketenangan jika kita berada di sampingnya. Pada umur ini anak tidak paham apabila diberi hadiah berharga murah atau mahal. Dia hanya paham bahwa orang yang cinta padanya adalah orang yang mau duduk di samping mereka. Dan jangan pernah membiarkan anak duduk sendirian di depan televisi, karena ini akan berkaitan dengan ancaman kematangan bahasa anak. Jangan lupa sempatkan berdoa. Doakan anak-anak seperti Rasul, “Ya Allah aku mencintainya. Cintailah orang-orang yang mencintai mereka.” 
    Cinta itu akan lahir bukan karena berapa banyak harta yang kita berikan kepada seorang anak. Namun cinta itu terlihat ketika kita selalu berada di sampingnya. Karena fitrahnya anak adalah sama ketika masih kecil, maka perlalukan mereka dengan cinta dalam bentuk belaian. Selain itu itu kita juga bisa mengkombain cara memperlihatkan cinta sesuai dari tabel berikut ini:
    Pendidikan Bahasa terlahir dari apa yang didengar oleh anak. Sehingga banyak hal yang perlu orang tua waspadai dengan cara bicaranya, mengingat bahwa anak akan lebih sering bersama dengan orang tua. 

    Orangtua harus menyebutkan bahasa yang benar kepada anak, tidak usah ikut-ikutan dengan bahasa anak yang belum jelas. Misalnya, anak bilang mau cucu, kita tdk mengikuti kata cucu melainkan menyebutkan susu. Hindari interaksi anak kita di 3 tahun pertama dengan perkataan/orang yang lisannya tidak baik misalnya gampang mengeluh, mencela, mencaci maki dsb. Hindari sebutan-sebutan tidak baik meskipun untuk menyebutkan panggilan sayang untuk anak. Jangan biarkan anak duduk sendirian di depan TV. Karena anak akan memungut banyak kosakata yang akan menyulitkan kita menanamkan nilai di usia berikutnya. Simbol-simbol dalam TV seperti muncul gambar hati di mata kucing yang sedang jatuh cinta, terekam di benak anak. Hal ini akan menyulitkan kita untuk menanamkan pentingnya menundukkan pandangan (ghadhul bashar) di usia berikutnya. Memperdengarkan kalimat-kalimat baik, pendek dan bernada pada anak-anak, seperti kalimat dzikir dan surat pendek, sehingga mudah untuk diingat. Misalnya : Bismillah untuk memulai aktivitas apapun, Alhamdulillah ketika selesai melakukan segala aktivitas (makan, minum, berkumur, berpakaian, dsb), memperdengarkan Surat pendek/dzikir dengan pola Dan irama (akan lebih baik menggunakan suara kita sendiri)

TAHUN KEDUA
Tahun kedua adalah kategori untuk usia 4-6 tahun Para ahli ilmu mengatakan bahwa anak seusia ini mengalami gejolak dalam gerak (aktif) dan gejolak bahasa (banyak bicara) sehingga anak dengan cepat skali meniru yang diucapkan disekitarnya, meski belum fasih. Allah memfitrahkan anak dalam usianya untuk bergerak. Rasul mengatakan, gerak yang berlebih akan mendukung mencerdaskan anak sehingga tidak perlu dibatasi melainkan diarahkan. Jika anak yang kurang bergerak dan anteng perlu diwaspadai.

Namun hal ini berbeda ketika anak sedang menuntut ilmu. Memang sebaiknya duduk tenang, tapi di luar itu biarkan mereka bergerak. Ibnu sina mengatakan tentang anak usia dini, kalo anak bangun tidur maka sebaiknya ia istirahat sejenak kemudian dibiarkan untuk bermain dengan mainannya selama 1 jam. Setelah bermain satu jam, kemudian disuapin makanan ringan. Lalu lepas lagi untuk bermain dengan durasi lebih lama dari sebelumnya. Setelah itu ia lelah, istirahat, baru sarapan pagi. Insya Allah lahap makannya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan gerak dan bermain pada usia ini adalah pertama jangan membatasi anak bergerak dan bermain tanpa ada batasan waktu. Jika waktu pun terbatas, tidak disampaikan dari awal, melainkan sampaikan setelah waktu selesai. Kedua ajak anak minimal 1 minggu sekali ke tanah lapang untuk.memuaskan dan kenyangkan kebutuhan bergerak anak. Ketiga jangan merasa bosan jika anak mengajak bermain pada hal yang sama berulang-ulang kali. Terakhir Manfaatkan permainan-permainan untuk menganalisa perkembangan anak kita. Permainan untuk mengobati akhlak anak kita. Misalnya saat anak diberikan boneka, anak bermain boneka dengan diam, menyisir boneka dan memakaikan baju pada boneka dengan diam, maka itulah refleksi anak diperlakukan oleh orgtua. Contoh lain misalnya anak bermain mobil-mobilan sambil berteriak, mengumpat atau mungkin sambil bernyanyi, maka begitulah yang ia pahami dari orangtuanya. Anak bermain mobil sambil teriak sana-sini, mungkin karena melihat ayahnya menyetir mobil sambil berteriak. Anak menggambar rumah dengan kakek atau kakaknya. Tidak ada gambar orangtuanya. Bisa jadi mereka tidak merasa dekat dengan ortu atau merasa ortu mereka penting dalam kesehariannya.

Pelajari pola dialog bersama anak-anaknya. Kita harus waspada dengan anak. Banyak dialog yang hidup di masa ini dan tidak boleh kita diamkan. Yang harus diperhatikan orang tua ketika berdialog dengan anak antara lain: Perbanyak ilmu orangtua agar bisa menjawab pertanyaan anak. Jika bisa menjawab, jawablah dengan benar dan ilmu. Jika tidak tahu jawablah tidak tahu, jangan mengada-ada. Selanjutnya perhatikan seni dalam menjawab, Jika anak bertanya dan kita tidak tahu, arahkan untuk mencari jawabannya di buku. Ajak ke toko buku dan biarkan mereka mencari sendiri gambar2 di buku dari apa yang mereka tanyakan. Jelaskan secukupnya, meski sebaris-2 baris kita bacakan, sudah cukup memuaskan dahaganya. Terakhir saat anaknya diam, Maka orangtua yang bertanya dengan pertanyaan yang terbuka dan bisa merangsang pola pikir anak. Jika anak tidak banyak bertanya pada kita, maka kita harus memancing pikiran mereka.

Hal-hal yang harus DIWASPADAI pada anak di usia 0-6 tahun adalah Taklid / Ikut-ikutan.

Yang memprogram anak pertama kali adalah dirimu sendiri. Makanlah dengan duduk dan tangan kanan, maka anak akan merekam dan mengikutinya. Makan dengan berdiri, maka anak mengikuti apa yang mereka lihat. Jangan pernah berkata bohong. Kuncinya adalah KETELADANAN.

Pendidikan anak di usia 4-6 tahun akan berhasil jika kita mengubah kebiasaan kita menjadi hal-hal yang baik, karena mereka adalah peniru ulung. Di usia kurang 6 tahun anak akan mengikuti kita karena kagum dan cinta pada orangtuanya. Setelah 6 tahun ia akan membagi kekagumannya pada guru, teman dsb.

Yang perlu kita tanamkan juga di usia ini adalah Al Qur’an. Bacaannya, tafsir, makna, hafalannya, ketepatan bunyi, tadabburnya, aplikasi Qur’an dalam keseharian dsb. Pelajari bagaimana Salafush sholih mendidikan Al Quran pada putra-putri mereka. Pena malaikat masih diangkat ketika anak melakukan maksiat (tidak dicatat oleh malaikat untuk dihisab), sehingga tidak akan menutupi ilmu.

CATATAN TAMBAHAN
Tantangan keras dalam proses pendidikan anak adalah lingkungan yang tidak mendukung. Lalu bagaimana kah solusinya jika lingkungan tidak mendukung pendidikan anak? Rumah menyumbang 60% pada anak dan sisanya ada di sekolah dan lingkungan. Jika lingkungannya tidak baik, maka orangtuanya lah yang harus rajin2 ‘mencuci gelas’. Sama halnya jika kita punya rumah di pinggir jalan, harus sering2 mengelap kaca yang terkena debu jalanan. Jika mereka terpapar lingkungan, orangtua mencuci akhlaqnya di rumah.

Beberapa hal yang menghalangi quran masuk dalam diri anak adalah Lagu/nyanyian yang bukan lagu anak. Permainan yang bukan permainan untuk anak. Lebih menyibukkan hati dan otak anak saat dia berada di majelis ilmu, misalkan games PS dsb. Anak tidak akan kecanduan lari-lari. Tapi games akan membuatnya kecanduan dan mengganggu konsentrasi.

Seiring berkembangnya teknologi, maka kita harus cerdas memanfaatkan perkembangan tersebut agar anak tidak tergerus dengan teknologi. Lantas kapan waktu yang tepat mengenalkan anak dengan gadget? Kalau ada kebutuhan tugas dari sekolah, tidak apa. Kenalkan sesuai esensi dan fungsinya : untuk berkomunikasi. Apabila anak sudah baligh, maka boleh untuk memberikan gadget dengan kepemilikan. Namun orang tua harus tetap melakukan evaluasi terhadap anak.

Lalu kapan waktu yang tepat untuk mengenalkan uang kepada anak? Yang lebih penting dari Pendidikan Uang adalah pendidikan tentang Nilai Uang. Didik pada anak kita agar ketika mereka memegang uang, yang harus dipikirkan olehnya pertama kali adalah : Uang ini darimana, dan Uang ini buat apa?

Bagaimana cara membagi perhatian kakak dan adik? Ketika penglihatan anak sudah disempurnakan di usia 4 bulan dan ia sudah dapat mengenali sosok ayah-ibunya, maka sudah seharusnya anak belajar transisi kedekatan, dari ibunya beralih pada Ayahnya. Ayah harus bisa memeluk dan mendekap sehangat ibunya. Sehingga jika ibu hamil lagi, kebutuhan kasih sayang ini tidak hilang. 

Jakarta, 9 Desember 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Private Album


***

"Brukkk!"

Gue terbengong meratapi badan yang sudah tertindih. Berat!
Beberapa orang memandang gue. Bapak-bapak relawan jalan, beberapa pengguna jalan, dan tak terkecuali supir bus transjakarta. Mereka tak tega kali ya hendak mencaci atau bahkan teriak ke gue. Mereka dengan muka kasihan cuma berdehem. Hanya berpesan, "hati-hati ya dek lain kali!"

Oke. Gue yang salah. Otak gue terbang kemana-mana waktu gue dalam perjalanan. Perasaan gue gundah, menggundahi angan-angan yang tak jelas dan tak nyata (abstrak, fana).

Sedetik setelah tragedi naas di awal pagi itu, gue langsung melanjutkan perjalanan demi ujian tengah semester. Gue harus memendam perasaan gue, buat mikir yang engga-enggak. Gue secepat kilat bangun dan berjuang buat gelar sarjana gue yang tinggal menghitung waktu.

Ujian selesai. Setidaknya satu moment terlewati.

"Ya Allah, melas amet sih awak! Udah ga ikut gathering kantor ke taman safari. Ga ikut pembukaan acara donor darah di Bandung. Pagi-pagi pake dicium bis transjakarta. Badan sakit semua. Tugas kulyah menumpuk. Tugas kantor membanjir. ATM hilang. Belum punya rumah. Emak sendirian di rumah. Nikah juga belum.  Ada beberapa hutang yang belum kebayar. Ya Allah, kapan awak bahagia. Ya Allah, matikan saya dengan sebaik-baiknya keadaan."

Pada akhirnya gue mengeluh juga ketika jalan pulang, padahal Allah memberikan nikmat yang jauh lebih banyak. Mungkin gue tak bisa bersyukur. Mungkin gue yang kurang bisa mengatur diri, dan gue banyak dosa sehingga Allah menimpakan ujian ke gue.

Dalam hati masih mikir, "Alhamdulillah. Untung si supir transjakarta ga marah. Untung gue ga dituntut si bapak. Untung gue cuma ketindih motor, bayangin klu kejadian jaman STM keulang. Gue ngesot sama motor sepanjang 100 meter, rok sekolah sampai berlubang". Kalau kalian nanya ke gue kenapa bisa begitu, gue juga ga tau musti jawab apa. Orang-orang sih mandang gue yang salah. Karna waktu gue mau puter balik, gue sama sekali ga lihat itu body-nya transjakarta. Cuma yang gue aneh dari rumah itu emang ngrasa ada sesuatu yang ga bisa dijelaskan dengan kata-kata. Blur!

***

"Ngabarin enggak. Ngabarin enggak."

Okeh gue ngabarin mamah tercinta. Panik beliau, nyuruh ke dokter minum obat dan segala macamnya. Duh mamah, pening pala awak. ATM ndug kan ilang.

Lanjut ngabarin abah. Antara panik dan engga, gue ga tahu mana yang tepat. "Read Only" yang dilambangin dua garis centrang warna biru di layar whatsapp.

Ngabarin mas diyan. Cuma "trus jatoh?" dan pengalihan crita yang lain. Gue juga ga gitu ngerti perhatian atau engga.

Ngabarin ibuuuk. Panjang lebar. Yang penting gue tau, ibuk merhatiin gue dong. Hahaha.

Ngabarin abang awir. Abang bilang "Bis-nya kesemsem". Hadeh, abang ngiranya sih gue becanda. Maklum sih ya, kan gue pecicilan.

Semua yang terjadi pada diri kita, sungguh itu adalah rencana dan jalan terindah yang Allah berikan kepada kita. Sekiranya kita tidak mendapatkan yang selalu baik maka haruslah kita menikmatinya dengan sabar, walaupun ketika kita diuji hal yang baik pun harus bersabar.

Allah selalu memberikan kita kesempatan untuk kita menuju jalan lurusnya. Termasuk gue pagi itu. Allah masih memberikan gue kesempatan untuk bertaubat, dan untuk lebih mencintai-Nya dibanding dengan apapun.
Selagi masih ada waktu, mari berusaha yang terbaik.

Bukankah tak perlu mati dulu lalu bertaubat? Bukankah tak perlu menyesal ketika sudah diliang lahat?

Gue inget pesan ustadzah banna, "Allah akan membuat hamba yang ia cintai menjadi lebih bermanfaat ketika hambanya itu mendekati ajalnya".

Dan gue pun berharap begitu.
Menuju 26 tahun, dan gue mulai menggalau. Belum mampu berbuat banyak.

    Jakarta, 20 November 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
    Image Source: Mbah Google Album