Anita Sari Sukardi

"Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi."
(Penggalan QS. Ar Ra'd : 17)



Travelling ke Gunung Slamet - Pendakian Pertama Mt. Slamet

0
Puncak Gn. Slamet - Jawa Tengah, 7 Mei 2016 [09.45]

Bukan gunung tertinggi yang patut untuk ku taklukkan, bukan lautan terdalam yang patut untuk ku taklukkan. Melainkan adalah diriku sendiri, egoku sendiri.

Dua sujud dan syair kalam-Nya membawaku terhanyut. Di atas  sana aku tertunduk. Pandanganku menerawang jauh. Begitu kecilnya aku. Dan begitu pemurahnya sang pencipta. Satu bulan yang lalu, entah mengapa aku begitu mengiyakan untuk mengikuti acara teman-temanku ini. Mungkinkah aku mencari tempat pelarian? atau mungkin aku ingin keluar dari zona nyamanku saat ini?

Puncak Gn. Slamet, Jawa Tengah (‎3.428 MDPL)


***

Tepat tiga hari setelah kemelut pribadi akan keikut sertaanku dalam acara ini. Yah pendakian ke GunungSlamet. Pikirku tak mungkin aku pergi dalam kondisi seperti ini, keuangan yang mepet, banyaknya kebutuhan yang harus diselesaikan dan daftar list yang dikirimkan seorang teman beberapa hari lalu membuatku semakin menciut. Tak ada satupun dari daftar itu yang aku punyai. Terlebih, salah seorang teman wanita yang ku anggap sebagai kakak sendiri kemungkinan tidak ikut serta juga.

Malam itu belasan panggilan tak terjawab terlihat di telepon genggamku setelah acara ku kirim pesan singkat berisi pembatalan keikutsertaanku. Siapa lagi kalau bukan si mba. Sekonyong-konyongnya dia mengomel. Keesokan harinya aku hanya sanggup menjelaskan kepadanya bahwa aku tertidur.

Jadi bagaimana kelanjutannya? Kalian pasti tahu jawaban apa yang tepat ku ambil. Saat ini ini aku di stasiun, menanti kedatangan mereka satu persatu. Saat ini aku hanya berfikir tak ingin mengecewakan lagi. Bagaimana tidak, bukankah aku beruntung bertemu dengan mereka? Ada mba yang slalu khawatir serta meminjamiku sendal gunungnya, ada si botak yang membantuku mendapatkan sleeping bag, ada mas wawan yang malam-malan sepulang kerja mengantarkan tas carrier-nya, ada koh biyan yang meminjamiku headlamp-nya, dan masih hal kecil lain yang benar-benar membuatku merasa lebih berarti, aku terenyuh.

Kereta kini melewati Purwakarta, dan kulihat di sebelah kanan ada tumpukan gerbong usang yang sudah terpakai. Meski rongsokan, namun apik dalam sebuah pandangan.

Siang itu, sekitar pukul setengah satu.

"Pak, tak adakah jalan lain untuk kami menuju Purwokerto?", "Ndak ada neng, kalau pun kalian mengejar ke stasiun berikutnya juga percuma. Saat ini perjalanan ke sana sedang macet parah."

Penggalan percakapan itu terjadi setelah aku dan mba berlari mengejar kereta yang tak sedikitpun ia memberi kami kesempatan kedua. Dan kulihat si botak berada di depan pintu melambaikan tangan untuk mba, yang seakan-akan nostalgia drama India dimulai. Namun, tak tersentuh.

"Adegan romantis, barangkali hanyalah mimpi yang tertunda dalam sebuah sinetron atau drama Korea" begitulah pikirku sekarang. Secepat apapun kami menejar, tak akan mengubah apapun. Kereta dengan angkuhnya meninggalkan kami. Habislah sudah aku dan mba. Aku tak membawa telepon genggam, uangpun hanya ada 25.000,00 di kantong saku-ku dan mba pun juga hanya memegang uang 50.000,00 di tangannya.

Pelan, lesu. Itulah aku dan mba waktu itu setelah menjadi tontonan ratusan pengunjung stasiun Bandung. Ada dari mereka merasa iba, ada pula mungkin mencaci kami di dalam hati. Tiba-tiba  kulihat si botak. Amboiii, kalau yang satu ini baru dewa. Tak kusangka memang. Ternyata masih ada pula laki-laki yang begini. Setelah sebelumnya cuma memandang kami jauh dari ambang pintu kereta akhirnya dia di depan kami sekarang. Dia turun dari kereta.

Perjalanan tak terhenti memang, masih berlanjut. Kami akhirnya memutuskan naik bus, "Goodwill" nama bus tersebut. Namanya membuatku semakin terenyuh, Melankolis memang.
Dalam sebuah tragedi pasti ada hikmah yang akan selalu menjadi pelajaran, dan jangan pernah membiarkan sebuah tragedi akan memperburuk kondisimu. 
Jangan sebut kami trio melankolis, tak ada dalam kisah kami. Saat yang lain mungkin bertanya kondisi kami, khawatir dengan kami. Kami sendiri sedang menikmati saat ini. Apel, es krim, minuman dingin dan beberapa snack menjadi pelengkap perjalanan kami selanjutnya.

Trio pemeran utama "Mengejar Slamet Tak Seindah Sinetron"

Subuh akhirnya kami tiba di Purwokerto setelah sekian lama tertidur dalam bus. Ah ku kira kami sudah sampai begitu dekat tapi ternyata hanya ilusi semata. Kau tau seberapa jauh perjalanan berikutnya? Kami harus naik ojek menuju terminal yang jaraknya ditempuh dalam waktu kurang lebih setengah jam kemudian naik bus desa menuju pertigaan kearah gunung Slamet. Pasalnya kami tak tahu harus naik apa dari terminal (ketika kami turun dari ojek), pun tukang ojeknya tak tahu persis. Kami hanya mengasal masuk bus ketika dalam bus itu terlihat beberapa orang yang membawa tas carrier besar (Pendaki). Dilanjutkan dengan menaiki sebuah mobil kecil untuk menuju pos persiapan tempat teman-teman yang lain menunggu.

"Kalian mau naik gunung? Carrier-nya mana, sini biar bapak rapikan di atas mobil". Dan jelas kami hanya tersenyum menanggapi bapak sopir tersebut.

Hawa dingin dan sejuknya angin diluar menghembus dengan lembut meraih jemariku. Sengaja ku keluarkan tanganku untuk merasakan angin di luar mobil. Akhirnya kami sampai di pos tempat teman-teman kami bermalam. Ah riuh sekali mereka kami datang. Bak buronan yang siap dicincang. Ah, rasanya manis memang perjalanan ini. Ku lihat kami semua sudah kumplit sekarang, 11 jemaah penakluk Gn, Slamet; Koh biyan, tuti, hamdan, teguh, ridho, bang rifki, inna, mas wawan, si botak roni, mba icha, dan tentunya aku.

Pasukan Liliput Memuncak
09.45 WIB Kami mulai menjinjing tas kami. Aku tak asing lagi dengan udara ini, tanah basah, pepohonan rindang. Ah semesta. . .




Bandung, 2016 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album