Anita Sari Sukardi

"Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi."
(Penggalan QS. Ar Ra'd : 17)



Istimrorituttarbiyah (Kesinambungan dalam Tarbiyah)

0
#SerialLiqo
Berlelah-lelah kami berjuang untuk memeluk akhirat, sesungguhnya cukuplah dunia ini menjadi persinggahan.

Rasanya begitu terlambat saya berbagi materi apa yang telah saya dapatkan dari tarbiyah. Ah begitu bodohnya saya, kenapa harus terlambat menyadari apa itu arti berbagi hanya karena ketakutan yang nanti akan saya pertanggungjawabkan. Sudahlah. Cukuplah hati ini tertuju, yang jelas berbagi bukanlah perihal uang atau barang. Tak apalah, dibanding tidak sama sekali.

***

Kesinambungan dalam tarbiyah mempunyai 3 prinsip dasar. Antara lain sebagai berikut:
  1. Murabbi dan muttarabbi harus didasari keimanan, niat yang ditujukan hanya kepada Allah.
  2. Adanya hubungan yang harmonis antar anggota tarbiyah.
  3. Pengorbanan yang tulus pada masing-masing individu.

Kenapa tarbiyah harus dilakukan seumur hidup? Kenapa tarbiyah "Never ending?"
  1. Tarbiyah bertujuan untuk mensolehkan diri.
  2. Tarbiyah bertujuan untuk mensolehkan orang lain.
  3. Untuk pencapaian point 1 dan 2 tidak bisa dilakukan dengan instan. Karena itulah tarbiyah harus dilakukan dengan ekstra sabar.
  4. Karena kadar keimanan naik turun, maka tarbiyah menjadi reminder bagi pelakunya.

Lalu apa perbedaan tarbiyah dengan majelis?
  1. Tarbiyah sebagai fungsi kontrol, karena antar anggota akan saling mengingatkan, menguatkan dan saling mengevaluasi.
  2. Tarbiyah berjalan 2 arah, antara yang memberikan materi dengan peserta terdapat komunikasi. Namun bukan hanya sekedar komunikasi peserta bertanya dan pemateri menjawab pertanyaan. Yaitu lebih ke porsi evaluasi dan perhatian.

Di dalam tarbiyah, terdapat ukhuwah. Di mana tingkatan ukhuwah sebagai berikut:
  1. Saling mengenal
  2. Saling memahami
  3. Saling menolong/membantu
  4. Saling menanggung
  5. Mendahulukan Orang lain
Tingkatan ukhuwah dipelajari sebagai bekal untuk bermasyarakat yaitu dalam adab berhubungan dengan orang lain.

Said Naum - Jakarta, 27 Agustus 2016 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: No Image