Anita Sari Sukardi

"Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi."
(Penggalan QS. Ar Ra'd : 17)



Berbaktinya Uwais Kepada Sang Ibu

0
Uwais
Belum dikatakan berbuat baik kepada Islam, orang yang belum berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Dialah Uwais seorang pemuda yang tinggal di Yaman, sebuah negara di Jazirah Arab di Asia Barat Daya, bagian dari Timur Tengah. Uwais adalah pemuda yang sangat berbakti kepada ibunya. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya.

Suatu ketika ibu uwais berkata, "Anakku bawalah aku untuk melaksanakan haji, usiaku kini sudah sangat mendekati ajal." Uwais saat itu hanya diam dan tak mampu berkata sepatah katapun. Uwais termenung. Perjalanan menuju Mekah sangatlah jauh, sedangkan ia sendiri bukanlah orang yang kaya. "Bagaimana aku harus membawa ibu ke Mekah?", ujarnya dalam hati.

"Hei Uwais, anak sapi yang kau gendong itu tak akan pernah bisa menggendongmu kembali dari desa ini ke bukit itu. Kamu sudah gila Uwais." Begitulah cemooh dari penduduk desa yang keheranan dengan sikap Uwais ini. Penduduk desa tidak mengerti kenapa setiap hari Uwais menggendong anak sapi itu naik-turun bukit.

Delapan bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Dengan badan yang badan kekar, kini Uwais telah siap untuk menggendong Ibunya menuju ke kota Mekah untuk melaksanakan haji. Penduduk desa pun akhirnya mengerti alasan utama Uwais menggendong anak sapi yang berubah menjadi sapi dewasa naik-turun bukit. Yakni agar ia kuat membawa ibunya ke Mekah untuk melaksanakan haji.

Setelah melakukan tawaf, Uwais berdoa memohon ampun untuk ibunya. "Ya Allah, ampunkanlah ibuku. Ampunkanlah Ibuku." Sang ibu yang berada di sampingnya pun menangis sejadi-jadinya seraya berkata, "Bagaimana dengan dosamu Uwais, memohon ampunlah kepada Allah atas dosamu. Jangan kau memohonkan ampun untukku terus." Kemudian Uwais pun berkata "Tidak ibu. Aku akan tetap memohonkan ampun untukmu ibu. Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.”

***

Adakah di dunia ini masih tersisa cinta kasih seorang anak seperti cintanya Uwais kepada Ibunya? Semoga kita bisa meneladani sikap Uwais ini. Tidak ada kata terlambat untuk melakukan suatu kebaikan, termasuk kebaikan kepada orang tua. Mungkin sangat terlambat bagi kita, namun terlambat lebih baik dibandingkan tidak sama sekali.

Jakarta, 2017 | ©www.anitasarisukardi.com


Image Source: Unknown