Anita Sari Sukardi

"Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi."
(Penggalan QS. Ar Ra'd : 17)

Alasan Sulitnya Perantau Pulang Ke Tempat Asal (Kampung Halaman)

0
Alasan Perantau

Merantaulah. Karena ilmu itu seluas alam semesta, setinggi langit ke tujuh. Dan tak akan kita dapati sesuatu jika kita hanya berdiam dalam sangkar. - @nithairas

Ada banyak alasan seseorang memutuskan merantau. Secara garis besar kita akan menjumpai dua alasan besar seseorang merantau, yaitu untuk Pendidikan atau Pekerjaan yang lebih baik dan lebih menjanjikan untuk masa depan.

Lambat menaun seorang yang merantau karena pendidikan pastinya akan selesai pendidikannya. Kemudian orang yang merantau karena pekerjaan lambat menaun akan memiliki tabungan yang cukup untuk diri sendiri & keluarga. Lantas akankah sampai di situ? Tentu saja tidak. Apakah segera memutuskan kembali ke kampung halaman? Hal ini merupakan pertanyaan yang pelik untuk anak rantau memang. Beberapa dari kami memang ada yang memutuskan langsung kembali ke kampung halaman dengan alasan antara lain permintaan kedua orang tua untuk segera pulang, perubahan status (aka. Pernikahan), dan kecukupan finansial yang bisa membuat kami survive di kampung halaman.

Di sisi lain, bagi kami yang sulit untuk memutuskan segera pulang ke kampung halaman bukan karena kami tak ingin kembali atau kami tak ingin memajukan daerah asal kami. Namun karena pertimbangan-pertimbangan pelik yang bersarang di kepala kami. Kondisi kesiapan pribadi, baik dari segi penerimaan kekecewaan masa lalu yang terjadi di kampung halaman, kemudian finansial (termasuk jabatan) maupun behavior yang sudah tercipta di tempat rantau menjadi tolak ukur yang kemudian berlanjur ke sosial zone. Misalnya hal yang bisa dibawa untuk daerah asal, hal yang bisa dilakukan untuk daerah asal kedepannya. Kedua point ini memang tidak mudah, bahkan sangat sulit buat saya sendiri.

Sayangnya karena alasan-alasan yang tidak bisa dijabarkan ini, banyak orang yang hanya memandang sebelah mata. Misalnya munafik, durhaka dengan kampung halaman, sudah menemukan dunia baru, or else yang masih panjang dan njlimet. Padahal kita sebagai makhluk Allah paling sempurna dan yang berakal seharusnya kita lebih paham. "Di mana pun bumi dipijak, disitulah saya bermanfaat" @nithairas

Ketika kita berfikir lebih luas seperti kutipan yang baru saya sebutkan, maka apa yang kita takut dan risaukan lambat laun akan menjadi oksigen yang memberi kita ruang untuk lebih bermakna.

Jakarta, 2017 | ©www.anitasarisukardi.com


Image Source: Personal Album