Anita Sari Sukardi

"Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi."
(Penggalan QS. Ar Ra'd : 17)

Travelling ke Pantai Anyer

0
Pantai Anyer

Pantai anyer menyisakan bukti akan sejarah Indonesia. Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Anyer Panarukan adalah jalan raya sepanjang 1000 KM yang dibangun pada pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1809-1810). Sampai saat ini Jalan raya itu menyisakan sakit dan pilu yang mendalam. Karena sejarah mencatat Pembangunan jalan raya itu sangat kejam, banyak warga pribumi meninggal.

***
Sesampainya di laut ku khabarkan semuanya,
Kepada karang kepada ombak kepada matahari,
Tetapi semua diam, tetapi semua bisu,
Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit,
Barangkali di sana ada jawabnya,
Mengapa di tanahku terjadi bencana,

Mungkin Tuhan mulai bosan,
Melihat tingkah kita yang selalu,
Salah dan bangga dengan dosa-dosa,
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita,
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang,
- Lirik by Ebiet G. Ade

Lagu yang tepat untuk tempat yang tepat. Kali ini adalah liburan saya ke Pantai Anyer. Liburan ini terhitung liburan tak terduga. Karena setelah menikmati senja di Pantai Ancol saya tidak mengagendakan liburan ke pantai.

Pantai Anyer

Travelling Ke Pantai Anyer
Bagi saya pantai adalah tempat yang membuat saya selalu terpukau, yah walaupun hanya tentang air dan langit. Tapi bagi saya sendiri pantai memberikan ruang sendiri dalam hati saya. Entah itu suasana bagus atau tidak.

Sunset di Pantai Anyer

Ada pepatah bilang "Adanya kamu, pasti ada suatu hal yang tersembunyi di dalamnya. Kamu yang akan memberikan manfaat atau kamu diberi manfaat olehnya atau bahkan keduanya". Perjalanan ini pula yang memberikan saya pemahaman lebih mendalam tentang "EGO".

Ego adalah sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengarah individu kepada objek dari kenyataan dan menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan (Koeswara 1991: 33-34). Ego tampak sebagai pikiran dan pertimbangan (Ahmadi 1992: 152). Tugas ego adalah untuk mempertahankan kepribadiannya sendiri dan menjamin penyesuaian dengan alam sekitar (Bertens 2002: 71).

Saat itu kami mendapatkan masalah yang cukup seru. Dari masalah tersebut saya mampu menilai, bahwa begitu besarnya ciptaan Tuhan. Begitu kita terlalu kerdil untuk tidak mau menghamba kepadanya. Kami hanya beberapa orang, namun cara kami memandang dan menyelesaikan masalah begitu beragam. Ada si A yang bertahan dengan aturan perdunia bisnisan, ada B yang bertahan dengan emphaty yang besar. Ada lagi yang lain memandang kedua penalaran sikap di sisi tengahnya. Dan masih banyak lagi pendapat yang lain.

Lantas ego yang seperti apakah yang baik? Menurut saya pribadi tak ada ego yang terbaik, namun ego yang betul adalah ego yang kita sandarkan kepada mau-nya Tuhan, ridha-nya Tuhan. Dengan hal itu kita mampu bersikap sebagaimana menjadi manusia yang memberikan banyak manfaat, bukan menjadi manusia yang merusak dan menyakiti makhluk lain.


Jakarta, 10 Oktober 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source:  Personal Album