Anita Sari Sukardi

"Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi."
(Penggalan QS. Ar Ra'd : 17)



Mendidik Anak Usia 0 sampai 6 Tahun


Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun terkadang apa yang mereka inginkan tidak sesuai dengan kenyataannya. Barang kali orang tua terlewat dalam memberikan inputan kepada anak, sehingga tidak sesuai dengan yang diinginkan.
"You give, you get"

(Anita Sari Sukardi)

#SerialBaca
Bukan hanya satu dua pasangan yang berstatus orang tua yang lupa dengan tujuan, mimpi, ataupun motivasi ketika mendapatkan anak. Hal itu terjadi seiring dengan keadaan dan waktu mereka. Namun, seharusnya hal ini tidak bisa digunakan sebagai alasan. Harusnya meskipun apapun aral melintang, meskipun badai menerjang mereka tetap kukuh dengan perjuangannya yaitu tujuan, mimpi atau motivasi ketika telah mendapatkan anak.

Pada dasarnya setiap pertumbuhan manusia ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut:
  1. Kebutuhan pokok yang paling dasar yang diperlukan diusia tersebut.
  2. Bahaya yang paling besar terjadi diusia tersebut.
  3. Nilai-nilai apa saja yang kita tanamkan pada anak ditahapan usianya, dan bagaimana cara menanamkannya.

Dari ketiga point tersebut, mari kita bahas berdasarkan periode nya.

TAHUN PERTAMA
Tahun pertama adalah kategori untuk usia 1-3 tahun. Menurut ahli psikologi, usia 0-6 tahun ini disebut Golden Age. Tetapi ulama menyebutkan usia ini adalah Usia Fitrah. Semua nilai yang bermanfaat di usia dewasa, sebaiknya ditanamkan di usia ini.

  1. Kebutuhan Pokok & Ancaman
  2. Pada usia ini kebutuhan utama bagi seorang anak adalah makanan dan perhatian.

    Al Quran menyebut usia ini sebagai Rodho’ah (usia menyusui), yaitu dimana para wanita dianjurkan untuk menyusui. Serta menggenapkan susuan anaknya (jika tak ada halangan) selama 2 tahun bagi mereka yang ingin menyempurnakannya.

    Masa ini merupakan amalan utama bagi seorang Ibu di 2 tahun pertama setelah melahirkan. Ada hal yang menarik mengenai hal ini yaitu hikmah dari masa nifas dan tidak boleh sholat adalah keadaan ibu setelah melahirkan yang harus FULL menyusui. Allah ijinkan wanita yang sedang nifas untuk meninggalkan sholat dan puasa, supaya Ibu meluangkan waktu secara intens dan maksimal bersama bayinya. Selain itu, ketika hal buruk terjadi (perceraian) secara otomatis hak asuh anak akan jatuh ke pangkuan ibu. Hal ini didasarkan keutamaan menyusui tadi.

    Kemudian masa hadhonah (pengasuhan) ini adalah masa istimewa, yang jika Ibu tidak hadir mendampingi anak-anaknya, maka sungguh disayangkan. Menurut beberapa penelitian, anak yang berada di bawah pengasuhan seorang ibu secara langsung akan memiliki ketenangan dan kematangan sikap, dibandingkan anak-anak yang masuk ke lembaga pendidikan terbaik sekalipun.

    Masa penyapihan. Seorang ibu harus betul-betul memperhatikan masa ini, orang tua harus tepat saat menyapih. Anak akan terpukul saat ibu menyapih mereka, jika tidak tepat cara menyapihnya. Bangunan yang sudah dibangun selama menyusui akan runtuh dan bisa muncul kebencian pada orang-orang di sekitarnya jika di fase ini ia diolok-olok dsb. Proses penyapihan tidak bisa terjadi secara instan. Proses ini memerlukan waktu yang cukup panjang tergantung pada karakter anak masing-masing. Jangan pernah mencoba menyapih dengan cara ekstrim. Misalnya memberikan jahe pada puting, memberikan lipstik pada puting sehingga memaksa anak berhenti menyusu dengan cara yang tidak apik. Lalu bagaimanakah cara yang tepat melakukan penyapihan? Agar anak tidak merasa terpukul saat disapih, maka dekapan, pelukan dan usapan sayang tetap diberikan saat mereka tidak menyusu lagi.

  3. Nilai yang ditanamkan dan cara menanamkannya
  4. Nilai penting yang ditanamkan pada masa ini adalah Cinta dan Bahasa.
    Anak 1 tahun belum bisa bicara dan mengerti apa yang kita ucapkan pada mereka, atau yang terjadi di sekelilingnya. Tapi anak bisa merasakan ketenangan jika kita berada di sampingnya. Pada umur ini anak tidak paham apabila diberi hadiah berharga murah atau mahal. Dia hanya paham bahwa orang yang cinta padanya adalah orang yang mau duduk di samping mereka. Dan jangan pernah membiarkan anak duduk sendirian di depan televisi, karena ini akan berkaitan dengan ancaman kematangan bahasa anak. Jangan lupa sempatkan berdoa. Doakan anak-anak seperti Rasul, “Ya Allah aku mencintainya. Cintailah orang-orang yang mencintai mereka.” 
    Cinta itu akan lahir bukan karena berapa banyak harta yang kita berikan kepada seorang anak. Namun cinta itu terlihat ketika kita selalu berada di sampingnya. Karena fitrahnya anak adalah sama ketika masih kecil, maka perlalukan mereka dengan cinta dalam bentuk belaian. Selain itu itu kita juga bisa mengkombain cara memperlihatkan cinta sesuai dari tabel berikut ini:
    Pendidikan Bahasa terlahir dari apa yang didengar oleh anak. Sehingga banyak hal yang perlu orang tua waspadai dengan cara bicaranya, mengingat bahwa anak akan lebih sering bersama dengan orang tua. 

    Orangtua harus menyebutkan bahasa yang benar kepada anak, tidak usah ikut-ikutan dengan bahasa anak yang belum jelas. Misalnya, anak bilang mau cucu, kita tdk mengikuti kata cucu melainkan menyebutkan susu. Hindari interaksi anak kita di 3 tahun pertama dengan perkataan/orang yang lisannya tidak baik misalnya gampang mengeluh, mencela, mencaci maki dsb. Hindari sebutan-sebutan tidak baik meskipun untuk menyebutkan panggilan sayang untuk anak. Jangan biarkan anak duduk sendirian di depan TV. Karena anak akan memungut banyak kosakata yang akan menyulitkan kita menanamkan nilai di usia berikutnya. Simbol-simbol dalam TV seperti muncul gambar hati di mata kucing yang sedang jatuh cinta, terekam di benak anak. Hal ini akan menyulitkan kita untuk menanamkan pentingnya menundukkan pandangan (ghadhul bashar) di usia berikutnya. Memperdengarkan kalimat-kalimat baik, pendek dan bernada pada anak-anak, seperti kalimat dzikir dan surat pendek, sehingga mudah untuk diingat. Misalnya : Bismillah untuk memulai aktivitas apapun, Alhamdulillah ketika selesai melakukan segala aktivitas (makan, minum, berkumur, berpakaian, dsb), memperdengarkan Surat pendek/dzikir dengan pola Dan irama (akan lebih baik menggunakan suara kita sendiri)

TAHUN KEDUA
Tahun kedua adalah kategori untuk usia 4-6 tahun Para ahli ilmu mengatakan bahwa anak seusia ini mengalami gejolak dalam gerak (aktif) dan gejolak bahasa (banyak bicara) sehingga anak dengan cepat skali meniru yang diucapkan disekitarnya, meski belum fasih. Allah memfitrahkan anak dalam usianya untuk bergerak. Rasul mengatakan, gerak yang berlebih akan mendukung mencerdaskan anak sehingga tidak perlu dibatasi melainkan diarahkan. Jika anak yang kurang bergerak dan anteng perlu diwaspadai.

Namun hal ini berbeda ketika anak sedang menuntut ilmu. Memang sebaiknya duduk tenang, tapi di luar itu biarkan mereka bergerak. Ibnu sina mengatakan tentang anak usia dini, kalo anak bangun tidur maka sebaiknya ia istirahat sejenak kemudian dibiarkan untuk bermain dengan mainannya selama 1 jam. Setelah bermain satu jam, kemudian disuapin makanan ringan. Lalu lepas lagi untuk bermain dengan durasi lebih lama dari sebelumnya. Setelah itu ia lelah, istirahat, baru sarapan pagi. Insya Allah lahap makannya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan gerak dan bermain pada usia ini adalah pertama jangan membatasi anak bergerak dan bermain tanpa ada batasan waktu. Jika waktu pun terbatas, tidak disampaikan dari awal, melainkan sampaikan setelah waktu selesai. Kedua ajak anak minimal 1 minggu sekali ke tanah lapang untuk.memuaskan dan kenyangkan kebutuhan bergerak anak. Ketiga jangan merasa bosan jika anak mengajak bermain pada hal yang sama berulang-ulang kali. Terakhir Manfaatkan permainan-permainan untuk menganalisa perkembangan anak kita. Permainan untuk mengobati akhlak anak kita. Misalnya saat anak diberikan boneka, anak bermain boneka dengan diam, menyisir boneka dan memakaikan baju pada boneka dengan diam, maka itulah refleksi anak diperlakukan oleh orgtua. Contoh lain misalnya anak bermain mobil-mobilan sambil berteriak, mengumpat atau mungkin sambil bernyanyi, maka begitulah yang ia pahami dari orangtuanya. Anak bermain mobil sambil teriak sana-sini, mungkin karena melihat ayahnya menyetir mobil sambil berteriak. Anak menggambar rumah dengan kakek atau kakaknya. Tidak ada gambar orangtuanya. Bisa jadi mereka tidak merasa dekat dengan ortu atau merasa ortu mereka penting dalam kesehariannya.

Pelajari pola dialog bersama anak-anaknya. Kita harus waspada dengan anak. Banyak dialog yang hidup di masa ini dan tidak boleh kita diamkan. Yang harus diperhatikan orang tua ketika berdialog dengan anak antara lain: Perbanyak ilmu orangtua agar bisa menjawab pertanyaan anak. Jika bisa menjawab, jawablah dengan benar dan ilmu. Jika tidak tahu jawablah tidak tahu, jangan mengada-ada. Selanjutnya perhatikan seni dalam menjawab, Jika anak bertanya dan kita tidak tahu, arahkan untuk mencari jawabannya di buku. Ajak ke toko buku dan biarkan mereka mencari sendiri gambar2 di buku dari apa yang mereka tanyakan. Jelaskan secukupnya, meski sebaris-2 baris kita bacakan, sudah cukup memuaskan dahaganya. Terakhir saat anaknya diam, Maka orangtua yang bertanya dengan pertanyaan yang terbuka dan bisa merangsang pola pikir anak. Jika anak tidak banyak bertanya pada kita, maka kita harus memancing pikiran mereka.

Hal-hal yang harus DIWASPADAI pada anak di usia 0-6 tahun adalah Taklid / Ikut-ikutan.

Yang memprogram anak pertama kali adalah dirimu sendiri. Makanlah dengan duduk dan tangan kanan, maka anak akan merekam dan mengikutinya. Makan dengan berdiri, maka anak mengikuti apa yang mereka lihat. Jangan pernah berkata bohong. Kuncinya adalah KETELADANAN.

Pendidikan anak di usia 4-6 tahun akan berhasil jika kita mengubah kebiasaan kita menjadi hal-hal yang baik, karena mereka adalah peniru ulung. Di usia kurang 6 tahun anak akan mengikuti kita karena kagum dan cinta pada orangtuanya. Setelah 6 tahun ia akan membagi kekagumannya pada guru, teman dsb.

Yang perlu kita tanamkan juga di usia ini adalah Al Qur’an. Bacaannya, tafsir, makna, hafalannya, ketepatan bunyi, tadabburnya, aplikasi Qur’an dalam keseharian dsb. Pelajari bagaimana Salafush sholih mendidikan Al Quran pada putra-putri mereka. Pena malaikat masih diangkat ketika anak melakukan maksiat (tidak dicatat oleh malaikat untuk dihisab), sehingga tidak akan menutupi ilmu.

CATATAN TAMBAHAN
Tantangan keras dalam proses pendidikan anak adalah lingkungan yang tidak mendukung. Lalu bagaimana kah solusinya jika lingkungan tidak mendukung pendidikan anak? Rumah menyumbang 60% pada anak dan sisanya ada di sekolah dan lingkungan. Jika lingkungannya tidak baik, maka orangtuanya lah yang harus rajin2 ‘mencuci gelas’. Sama halnya jika kita punya rumah di pinggir jalan, harus sering2 mengelap kaca yang terkena debu jalanan. Jika mereka terpapar lingkungan, orangtua mencuci akhlaqnya di rumah.

Beberapa hal yang menghalangi quran masuk dalam diri anak adalah Lagu/nyanyian yang bukan lagu anak. Permainan yang bukan permainan untuk anak. Lebih menyibukkan hati dan otak anak saat dia berada di majelis ilmu, misalkan games PS dsb. Anak tidak akan kecanduan lari-lari. Tapi games akan membuatnya kecanduan dan mengganggu konsentrasi.

Seiring berkembangnya teknologi, maka kita harus cerdas memanfaatkan perkembangan tersebut agar anak tidak tergerus dengan teknologi. Lantas kapan waktu yang tepat mengenalkan anak dengan gadget? Kalau ada kebutuhan tugas dari sekolah, tidak apa. Kenalkan sesuai esensi dan fungsinya : untuk berkomunikasi. Apabila anak sudah baligh, maka boleh untuk memberikan gadget dengan kepemilikan. Namun orang tua harus tetap melakukan evaluasi terhadap anak.

Lalu kapan waktu yang tepat untuk mengenalkan uang kepada anak? Yang lebih penting dari Pendidikan Uang adalah pendidikan tentang Nilai Uang. Didik pada anak kita agar ketika mereka memegang uang, yang harus dipikirkan olehnya pertama kali adalah : Uang ini darimana, dan Uang ini buat apa?

Bagaimana cara membagi perhatian kakak dan adik? Ketika penglihatan anak sudah disempurnakan di usia 4 bulan dan ia sudah dapat mengenali sosok ayah-ibunya, maka sudah seharusnya anak belajar transisi kedekatan, dari ibunya beralih pada Ayahnya. Ayah harus bisa memeluk dan mendekap sehangat ibunya. Sehingga jika ibu hamil lagi, kebutuhan kasih sayang ini tidak hilang. 

Jakarta, 9 Desember 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Private Album