Anita Sari Sukardi

"Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi."
(Penggalan QS. Ar Ra'd : 17)



Jujur Kepada Diri Sendiri


Kita tak akan benar-benar bahagia sebelum kita mengenali diri kita sendiri.
(Anita Sari Sukardi)

Jujur dalam KBBI berarti a) lurus hati; tidak berbohong (misalnya dengan berkata apa adanya). b) tidak curang (misalnya dalam, dengan mengikuti aturan yang berlaku). c) tulus; ikhlas. Sudahkah kita jujur terhadap diri sendiri? Sudahkah kita jujur kepada orang lain?

Untuk kalian yang berani mengambil langkah, gue sangat saluuut karena bukan hal yang mudah untuk jujur terhadap diri sendiri, mungkin kita sering menjunjung tinggi kata itu. Namun tanpa sadar diri kita justru membohongi diri sendiri.

Termasuk gue. Sejauh ini ternyata gue adalah tipikal orang yang tidak ingin menyakiti hati orang lain, dan lebih memikirkan orang lain ditimbang diri sendiri. Akibatnya adalah gue sering kali sesak di hati, sering merasa tak adil atas semesta ini (*padahal mah memang diri sendiri yang membuat ulah). Beberapa waktu lalu, gue menulis tentang mimpi di akun instagram. "Mimpiku sederhana, bahagia!". Yah dari situlah saya mulai berdamai dengan diri sendiri, menghargai diri sendiri lebih baik lagi. Meskipun sejujurnya sebelum itu saya sudah mencoba, yang berbeda adalah kali ini adalah totalitas terhadap itu.

Dulu awalnya terasa memang sulit. Namun lambat laun gue terbiasa. Apa yang gue ga suka dari orang (*terdekat) akan gue bilang. Apa yang gue inginkan gue juga bilang ke orang yang bersangkutan. Apa yang gue ga suka dari orang lain juga gue bilang. Yang jelas apa yang gue lakukan adalah jujur terutama terhadap diri sendiri. Kalaupun orang lain tidak merespon, setidaknya gue sudah berusaha jujur.

Dampak positif yang gue dapatkan adalah gue bahagia atas apa yang telah gue lakukan, gue tidak menipu diri sendiri. Hati gue merasa lega, tenang. Sedangkan untuk dampak negatifnya, gue sih ga terlalu mikirin.

Percayalah, bahagia itu datangnya bukan dari materi atau dari orang lain. Melainkan dari diri sendiri. Maka belajar jujurlah pada diri sendiri tentang apa yang kamu mau dan kamu tidak suka. Jadikan diri menjadi orang yang lebih baik. Ketika pagi membuka mata, beryukurlah dan berterima kasihlah. Karena dirimu tidak meninggalkan dirimu.


Jakarta, 12 Januari 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album

Memulai Lagi Berjuang Lagi, Hai 2018


Allah selalu membuka pintu maafnya sampai hembusan nafas terakhir anak adam.
(Anita Sari Sukardi)


Tulisan ini bukan berarti karna aku ikut euforia 'Tahun Baru', bagiku setiap hari dan setiap hembusan nafas adalah adalah kesempatan. Kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik di mata Allah.

Satu tahun terlewat, banyak suka duka serta banyak pula target yang tidak tercapai. Sedih! But, i'm not the typical of person who easy to down. Hidup harus semangat. Mencari bekal pulang harus semangat bukan? Yah meskipun jauh dari kata sempurna, bahkan terlalu banyak dosa sepertinya.

Beberapa waktu belakangan ini aku begitu menyibukkan diri. Alih-alih ternyata berat badanku sukses turun hampir 5 kg. Bahagia? Iyalah. Yah meskipun dibilang udah terlalu kecil, tapi menurut gue dengan badan yang kecil justru membuat gue melangkah lebih ringan serta tidak merepotkan orang lain. Selain itu gue ga bakal kerepotan karna memilih baju kebesaran, ga kerepotan ga dapet kursi di mobil, ga kerepotan juga kalau makanan sudah pada habis. Toh perut gue kecil jadi nyemil dikit kenyang. Alhamdulillah.

Sejujurnya gue emang sengaja sih makan ga terlalu banyak, demi mengikuti ajaran baginda Rasulullah. Beliau mengajarkan pada gue bahwa kalau makan itu jangan sampe perut kenyang, selain itu menjaga body. Beliau not fat anyway. Beliau ganteng, beliau sexy dan tentunya perfect. Karna itulah gue juga ga mau jadi gendut.

Lantas apa yang saya kerjakan? Sebenarnya tidak yang begitu berat. Mungkin lebih ke otak yang bekerja terlalu capek. Yang jelas, apa yang saya usahakan semoga menjadi keberkahan dunia dan akhirat.

Di tahun ini semoga Allah memampukan saya untuk menyelesaikan segala ujian ini, kemudian berlanjut ke ujian berikutnya. Semoga saya menjadi istri yang diidam-idamkan suami serta keluarganya, menjadi lebih berbakti kepada orang tua, berpenghasilan dan jabatan lebih baik, lulus tahun ini,  bisa mengajar lagi, bisa melanjutkan bisnis, bisa jalan-jalan keliling indonesia, bisa melanjutkan studi tanpa halangan and last but forever semoga saya bisa semakin lebih taat kepada Allah, ndak bandel, nggak ngeyel, ga males baca buku and else yang panjang banget kalau dirunut. Amin.


Jakarta, 10 Januari 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album

Teriak Saja


Sabar, syukur. Karena Allah tahu yang kita butuhkan. Karena Allah lebih tahu tujuannya menguji kita untuk apa.

Jadi gue boleh teriak ga?
Gue boleh lari engga?

Jangan lari, karena lari tak akan menyelesaikan masalah. Mungkin beberapa hal yang kita rasa benar-benar merusak jiwa dan raga. Hal tersebut terlihat misalnya secara drastis berat badan yang turun, atau sulit sekali bagi kita untuk fokus terhadap suatu hal.

Di dunia ini pasti bukan hanya gue yang punya masalah, bukan hanya gue yang selalu berpandangan lurus-lurus saja. Nyatanya dunia lebih kejam dan lebih mencekam. Ketika visual lebih membunuh, ketika tamparan tak ubahnya seperti gigitan nyamuk. Semuanya boom. Meledak sudah.

Di hidup gue banyak hal yang tak adil dari perlakuan orang tua. Maybe beberapa orang di dunia ini juga merasakan yang sama. Menjadi korban masalah orang tua, yang dikait-kaitkan dengan hal lain yang begitu menyesakkan.

Hidup ga simpel guys, kalau hidup serius maka mungkin saja ga ada Surga dan Neraka.

Yang tahu masalah kita itu cuma kita, orang lain ga akan pernah tahu dan ga akan pernah merasa.

Sudahlah, merendah saja. Turunkan egomu 1 mili saja. Merendah tidak akan membuat kita rendah di sisi Allah kok.

Jadi solusinya apa?
Ambil air, berwudhu. Gelar sajadahmu. Tundukkan kepalamu.

Jakarta, 4 Desember 2017 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Unknown