Anita Sari Sukardi

"Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi."
(Penggalan QS. Ar Ra'd : 17)



Memaknai Sebuah Undangan

0
Undangan


Mendapatkan undangan itu berat, karena hukumnya wajib bagi kita yang menerima undangan. Kita wajib menghadiri undangan tersebut jika tidak ada uzur atau halangan yang syar'i untuk tidak datang atau menolak undangan tersebut. Maka bagi pengundang pun berat bebannya, karena harus mengetahui kadar kemampuan orang yang akan diundang.

Berikut adalah dalil yang menguatkan kewajiban memenuhi undangan.
Hak seorang muslim terhadap seorang muslim ada enam perkara.” Lalu beliau ditanya; ‘Apa yang enam perkara itu ya Rasulullah?’ Beliau menjawab: “Bila engkau bertemu dengannya, ucapkanlah salam kepadanya, bila dia mengundangmu, penuhilah undangannya.
(HR.Muslim)

Jika salah seorang di antara kalian diundang walimah, maka hadirilah.
(HR. Bukhari no. 5173 dan Muslim no. 1429)

Imam Ash Shan’ani rahimahullah menyebutkan, “Para ulama mengkhususkan wajibnya memenuhi undangan walimah dan semacamnya. Selain itu dihukumi sunnah. Karena untuk undangan walimahan diancam dengan suatu hukuman, sedangkan untuk undangan lainnya tidak demikian.” (Subulus Salam, 8: 133).

Namun ada pendapat lain yang menyebutkan bahwa mendapatkan undangan itu bersifat sunnah (Jumhur Ulama).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai tetangga seorang bangsa Persia yang pandai memasak. Pada suatu hari dia memasak hidangan untuk Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam. Setelah itu dia datang mengundang beliau. Beliau bertanya: “‘Aisyah bagaimana? orang itu menjawab: ‘Dia tidak!’, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kalau begitu aku juga tidak!”, orang ittu mengulangi undangannya kembali. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bertanya: “‘Aisyah bagaimana?” orang itu menjawab: ‘Dia tidak!’, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kalau begitu aku juga tidak!” Orang itu mengulangi undangannya pula. Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam bertanya: “‘Aisyah bagaimana?” Jawab orang itu pada ketiga kalinya; ‘Ya, ‘Aisyah juga.’ Maka Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam pergi bersama ‘Aisyah ke rumah tetangga itu.
Hadst Anas

Jakarta, 8 Februari 2018 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album