Anita Sari Sukardi

"Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi."
(Penggalan QS. Ar Ra'd : 17)



Perpanjang SIM Luar Kota Di Bandung

SIM Baru Indonesia


SIM gue sebulan lagi masa berlakunya habis. Karena gue takut kelupaan akhirnya gue perpanjang aja. Perpanjang SIM sebulan sebelum masanya. Awalnya gue bingung karena KTP dan SIM lama gue bukan alamat domisili yang sekarang, selain itu sekarang kan masih Korona. Gue sekarang tinggal di Bandung dan KTP gue Solo, sedangkan SIM lama gue Boyolali.

Setelah gue cari-cari informasi di dunia maya. Akhirnya gue ada harapan untuk memperpanjang SIM Luar Kota Di Bandung. Gue pilih lokasi perpanjang SIM di Gerai Utama Perpanjang SIM Online Bandung (Festival Citylink).
Gue berangkat pagi-pagi ke Festival Citylink dengan bawa bayi tentunya. Maklum bayi gue sepaket sama gue kalau kemana-mana. Gue agak cemas si kalau bakal diusir petugas karena bawa bayi tanpa bawa pendamping lain.

Sesampainya di sana emang sih muter-muter kaya gangsing. Gue harus ke lantai 2 melalui bagian paling belakang mall. Habis itu gue harus ke parkiran buat antri dengan menaruh SIM. Nah saat itu gue ditawarin tuh sama bapak-bapak buat diproses lebih cepet (calo dalam sepertinya). Cuma waktu itu gue bilang mau nyobain perpanjang sendiri dulu. Sambil nunggu antrian dipanggil buat antri lagi di depan loket untuk tes kesehatan. Sembari nunggu gue cerita tuh tentang calo sama suami, dan alhamdulillah suami bilang ga usah.



Lumayan agak bosan nunggu panggilannya. Gue hampir-hampir nyerah. Terus untungnya setelah rasa menyerah itu dipanggillah nama gue. Naik kemudian antri lagi di depan gerai. Anak gue udah mulai bosen, jadilah gue putuskan untuk ajak jalan-jalan di sekitaran. Apesnya toko-toko pada belum buka (Iyalah orang masih pagi).



Setelah beberapa lama, akhirnya gue dapat panggilan tes kesehatan. Alhamdulillah lancar. Meski anak gue teriak-teriak. Tes kesehatannya meliputi tes tekanan darah (tensi), tes mata, timbangan, dan tinggi badan. Setelah rangkaian tes kita harus membayar biaya tes sebesar Rp. 50.000,00. Dari tes kesehatan kita akan diberi satu bendel kertas dan SIM lama kita.

Bendelan berkas itu harus kita serahkan ke loket 2 yang kemudian kita menunggu antrian lagi untuk verifikasi dan pengisian form biru. Karena gue bawa bayi tanpa pendamping, petugas loket membantu gue. Gue cukup memberikan tanda tangan dan menjawab pertanyaan aja. Setelah berkas selesai kita akan dipanggil lagi untuk pembayaran sebesar Rp. 135.000,00 (SIM C) dan kita disuruh untuk menyerahkan formulir ke loket 5 untuk antri foto dan tanda tangan. Setelah foto dan tanda tangan kita harus menunggu lagi untuk panggilan hasil cetak SIM. Ketika cetak SIM kita akan ditanyai mau diberi laminasi biar awet atau tidak. Jika iya maka kita perlu membayar Rp.10.000,00.

Dan setelah hasil cetaknya jadi proses perpanjang SIM selesai. Nah SIM di Indonesia sekarang berbeda dengan yang dulu. Gue ga tahu sih kapan berubahnya. Jika dulu berwarna biru sekarang berwarna merah seperti gambar yang paling atas.

Semoga informasi ini membantu temen-temen yaaa. See you on my next stories.
Ah informasi ini membantu, bantu saya dengan subscribe youtube channel saya yah. Klik di SINI untuk linknya. Thank you.

Bandung, 20 November 2020 | ©www.anitasarisukardi.com
Image Source: Personal Album

Komunikasi Efektif Keluarga


Assalamu'alaikum wr.wb

Alhamdulillah hari ini Allah perkenankan saya untuk belajar mengenai komunikasi kepada orang lain, khususnya dalam keluarga. Berikut ini merupakan point-point yang dibahas oleh ustadz Aan.

  1. Orang tidak akan mati jikalau jatah umurnya belum habis.
    Dalam hal ini konteksnya sesehat apapun atau sesakit apapun jika waktu kita masih ada atau sudah habis, kita tidak tahu sedetik lagi yang akan terjadi.

  2. Gagaimana komunikasi terbaik dalam kehidupan?
    Komukasi dalam hidup yang baik adalah dengan mencontoh rasulullah. Karena Rasulullah merupakan manusia teladan untuk umat manusia. Begitu pula halnya jika ingin hidup penuh dengan keberkahan, manusia harus meniru rasulullah.

    Berkah berarti bertumbuh dalam kebaikan. Sehingga apabila kita sudah berumah tangga kita harus bertanya kepada diri sendiri. "Sudah berkahkah rumah tangga yang kita bangun ini? Seberapa manfaat yang kita berikan dari rumah tangga kita ini?"

    Lalu seberapa berkah rumah tangga kita? Apa indikator rumah tangga berkah itu? Ciri rumah tangga berkah itu?

    a. Ada kelembutan, Jiwa pemaaf & Musyawarah (Q.S. Al-Imran:159) 
    Jika kelembutan, hati yang memaafkan dan musyawarah sering dilakukan dan masih ada dalam rumah tangga kita, maka komunikasi masih bisa dibilang efektif.

    b. Ada kehangatan & Cinta
    Dalam keluarga harus ada kehangatan yang berorientasi kepada kedekatan antara suami/istri, ataupun antara anak dengan orang tua.

    c. Ada kebersamaan
    Misalnya olahraga bersama, ibadah bersama di antara anggota keluarga, dan kebersamaan dalam mencari ilmu.

    "Barangsiapa yang bangun malam dan membangunkan istrinya kemudian mereka berdua melaksanakan shalat dua rakaat secara bersama, maka mereka berdua akan dicatat sebagai orang yang selalu mengingat Allah Ta'ala.” (HR. Abu Daud)


  3. Lalu bagaimana berkomunikasi efektif itu?
    Hubungan antara keluarga berkah dengan komunikasi efektif itu berbanding lurus, keluarga berkah itu akan menghasilkan komunikasi yang efektif pula, dan begitu pula sebaliknya.

    Prinsipnya:
    a. Harmoni antara kata & Fakta (Q.S. As-Shaaf : 2-3)
    Senantiasa menyeleraskan kata yang diucapkan dengan kegiatan.

    b. Ucapan yang benar / Qaulan Sadiida (Q.S. An-Nisa:9)
    Ucapan yang benar, biasakanlah berkata dan berkomunikasi dengan ucapan yang benar dan tidak dusta.

    c. Qaulan Baliigha / Ucapan yang berbekas di hati (Q.S.An-Nisa:63) 
    d. Qaulan Ma'ruufan / Ucapan yang baik (Q.S. An-Nisa:5)
    e. Qaulan Layyinan / Ucapan yang lemah lembut (Q.S. Thaha:44)
    f. Qaulan Kariiman / Ucapan yang mulia (Q.S. Al-Isra:23)
    g. Qaulan Masyuura / Perkataan yang mudah & mudah dimengerti.


    Bandung, 1 November 2020 | ©www.anitasarisukardi.com
    Image Source: Google Picture